Tak ingin terhanyut terlalu jauh, Teja menyudahi pergerakan tangannya.Ia perlahan menarik jemarinya dari balik kemeja putih yang dikenakan Desy, lalu mundur dari tubuh gadis belia itu sembari mendorong halus kedua bahunya untuk menciptakan jarak."Mas, kamu…" cicit Desy dengan sepasang mata redup yang dipenuhi rasa heran dan perasaan menggantung."Aku konsisten, Des. Tadi aku bilangnya lain kali, ya berarti lain kali. Aku nggak mau menjilat ludahku sendiri," tegas Teja dengan suara tenang."Tapi… aku… aku lagi pengen, Mas," desah Desy jujur. Wajah cantiknya memerah padam, memandangi Teja dengan binar mata yang memohon."Tahan dulu buat permainan yang lebih bergairah lain kali, Des," potong Teja seraya menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan gejolak batin sang gadis. "Kalau kamu butuh kehangatan, sini ayo tidur di kamar ini saja. Aku biar bisa meluk kamu."Desy akhirnya mengangguk dan merapikan pakaiannya.Jemari lentiknya yang gemetar dengan cepat membetulkan celah kancing keme
Read more