"Sudah sepuluh hari ini adik saya demam tinggi, tapi kami nggak punya biaya buat berobat," bisik Desy dengan suara yang gemetar menahan kesedihan yang teramat sangat.Jemari kurus sang gadis mengelus dahi adiknya yang terasa sangat panas membakar. Bocah laki-laki berbadan kurus kering itu sesekali melenguh kecil dalam lelapnya, napasnya memburu cepat dan memiringkan tubuhnya, semakin meringkuk di atas tikar yang tipis."Makanya tadi saya jalan itu nyari kerjaan, Mas. Mungkin bantu dorong gerobak nasi atau apa gitu. Eh, malah dituduh mencuri," lanjut Desy seraya mengusap air mata yang tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya yang kotor."Kalau tas itu… saya nemuin udah dalam keadaan kosong gitu. Beneran saya nggak mencuri, Mas," tegas Desy lagi, memandangi Teja dengan sepasang mata bulat bening yang dipenuhi rasa keputusasaan dan kejujuran.Teja mengangguk pelan, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan batin sang gadis."Tenang saja, aku percaya sama kamu kok, Des. Lalu oran
Read more