“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya.“Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan.“Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi.Teja terdiam sejenak, kemudian meraba gada miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.“Eh, kok nggak sakit, Yah?“ ia melongo kaget.Toni tertawa singkat. “Makanya jangan asal ngomel saja mulut kamu itu! Tadi ayah sedang menguji peningkatan daya tahan tubuhmu, dan… terbukti nggak berasa, kan?““Waduh, Yah. Kalau ditendang aja nggak sakit, gimana nanti kalau nganu sama cewek?!“ Teja semakin melongo.“Halah, kenapa otakmu jadi kayak gitu sekarang, Ja?! Katanya kemarin nggak mau? Bilang mesum lah, ini lah, itu lah!“ goda Toni sembari menggerakkan kedua alisnya.“Sudah jadi takdirku, Yah. Aku kan juga pengen cepet naik tingkatan energi Qi!“ bantah Teja mencari-cari alasan.“Prettt!“ timpal sang ayah semakin jahil.Usai mengatakan itu, Toni kembali bergerak. Pukulan dan tendanga
Last Updated : 2026-06-03 Read more