"Uuuught ..." Mata Nyai terpejam rapat, saat merasakan inti tubuhnya terisi penuh. Tak berselang lama, Fatih bergerak cepat menghujam tubuh Nyai tanpa ampun, dan tanpa memberi jeda bagi Nyai untuk menyesuaikan tubuhnya. Fatih terus memacu hentakan demi hentakannya.Sedangkan tubuh Nyai bergerak tak terkendali. Cengkraman kedua tangannya erat di kedua lengan Fatih yang berkeringat."Fatih, kamu benar-benar sudah gila," gerutu Nyai.Namun, meskipun begitu, kedua matanya merem melek merasakan sakit yang bercampur dengan kenikmatan."Hh! Bukankah ini yang kamu inginkan, Nyai?" tanya Fatih, terengah.Menghentikan gerakannya, lalu menarik rambut panjang Nyai, hingga wajahnya mendongak ke atas.Nyai menganggukkan kepalanya sedikit. Dadanya naik turun, dan napasnya memburu."Iya, Fatih. Teruskan, jangan berhenti. Aku belum puas," pinta Nyai, kembali menarik pinggang Fatih ke arahnya.Fatih mendengus kasar. Ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya.Untuk sesaat, kamar istana gaib itu kembali
Mehr lesen