Grep ...Tiba-tiba, sepasang tangan memeluk Fatih dari belakang.Lengan putih mulus dengan jemari lentik itu melingkar erat di pinggangnya.Tubuh Fatih langsung menegang. Perlahan, ia menundukkan kepala, menatap tangan yang memeluknya. Hanya dalam sekejap, ia sudah mengenali pemilik sentuhan itu."Nyai ..." gumamnya pelan, namun giginya langsung gemeratak.Fatih memejamkan mata sesaat, berusaha menahan gejolak emosi yang langsung memenuhi dadanya.Sedangkan Nyai, ia menyandarkan kepalanya pada punggung lebar Fatih. Embusan napasnya terasa hangat seperti manusia, sementara kedua lengannya justru semakin erat memeluk tubuh pemuda itu."Kenapa kamu datang lagi?" tanya Fatih dingin, tanpa sedikit pun berusaha membalas pelukannya.Suara Nyai terdengar lirih, nyaris seperti bisikan."Aku merindukanmu."Fatih tetap diam."Sungguh ... aku selalu merindukanmu, Fatih," aku Nyai. "Andaikan saja kamu bersedia tinggal bersamaku di istana, aku tidak perlu repot-repot datang mencarimu seperti ini."
Read more