"Duduk sini, Kang. Aku obati dulu lehernya," titah Laras yang sudah membawa salep. Fatih tidak membantah. Ia segera duduk di samping Laras, membiarkan dia mengoleskan salep pada tanda merah di lehernya. "Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Laras, memecah keheningan. Fatih cepat menatap wajah Laras. "Ibuku sudah agak mendingan. Sepertinya kemarin dia hanya kecapean. Jadi, aku segera kembali lagi ke kota. Aku ingat dengan pekerjaanku, Ras." "Syukurlah , kalau begitu. Semoga beliau selalu sehat." "Iya, Aamiin." Malam pun semakin larut, Laras dan Fatih segera beristirahat."Ras, bangunin Aku pagi-pagi, ya. Aku tidak ingin kesiangan di hari pertamaku bekerja," ucap Fatih sambil memeluk Laras yang sudah berbaring membelakanginya.Laras menganggukkan kepalanya sedikit, tanpa menoleh kepada Fatih."Iya, Kang. Istirahatlah." "Hmm ..."Fatih pun cepat memejamkan matanya sambil menenggelamkan wajahnya di helaian rambut Laras. Menghirup aroma wangi sampo yang terasa menenangkan Keesokan harin
อ่านเพิ่มเติม