Pagi harinya, kami pulang ke mansion.Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang tanganku yang dingin. Aku tidak melepaskan, tapi juga tidak membalas genggamannya. Aku hanya diam menatap pepohonan yang melintas di jendela, sesekali mendengar suara mesin mobil yang menderu pelan.Setibanya di mansion, aku melihat Clara berdiri di ruang tamu. Dia tidak menyambut dan hanya menatapku dengan mata yang sulit dibaca, bukan marah, bukan benci, tapi juga bukan menerima. Matanya bergerak dari ujung rambutku yang kusut ke wajahku yang pucat, lalu berhenti di pergelangan tanganku yang masih bekas infus.Dia tidak mengatakan apa pun.Dia berbalik dan masuk ke kamarnya. Pintu ditutup dengan pelan tidak dibanting, tapi cukup tegas untuk mengirim pesan bahwa dia belum siap."Abaikan dia, dia butuh waktu," kata Leon.Aku mengangguk tanpa menoleh. Leon menggandeng tanganku menuju kamar kamarnya, yang entah sejak kapan mulai aku anggap sebagai kamarku juga. Aku duduk di tepi tempat tidur
더 보기