تسجيل الدخولMuseum itu besar. Gedung tua dengan arsitektur klasik, pilar-pilar marmer putih menjulang tinggi di pintu masuk, dan di atasnya, tulisan emas terbaca jelas: Natural History Museum. Ethan berlari kecil di depan Ana, matanya berbinar-binar, tidak sabar untuk melihat dinosaurus yang selama ini hanya dia lihat di buku dan mainan plastik."Mom! Cepat, Mom! Aku mau lihat T-rex!" teriaknya sambil melambai-lambai.Ana tersenyum. Dia berusaha mengikuti langkah Ethan, meskipun di dalam hatinya masih ada rasa cemas yang tidak bisa dia hilangkan. Sejak tadi, sejak kejadian di jalan, dia merasa ada yang mengikuti mereka. Setiap kali dia menoleh, tidak ada siapa pun."Ayo. Pelan-pelan. Jangan lari," katanya.Ethan tidak mendengarkan. Dia sudah masuk ke ruangan besar dengan kerangka dinosaurus raksasa di tengahnya. Mulutnya terbuka, matanya membulat."Wah! Besar sekali!"Ana berdiri di belakangnya, menatap anaknya dengan penuh kasih. Untuk sesaat, dia hanya melihat Ethan, anaknya, yang bahagia.Tapi
Keesokan paginya."Mom, kita ke mana?" tanya Ethan sambil memakai sepatu ketsnya yang sedikit usang."Ke museum. Ada dinosaurus.""Beneran? T-rex?""Beneran. T-rex, brontosaurus, triceratops, semuanya."Ethan melompat kegirangan. "Hore! Aku mau lihat T-rex!"Ana tersenyum. Senyum yang jarang muncul akhir-akhir ini."Ayo, kita naik taksi."Sebastian tidak bisa ikut, dia ada urusan bisnis yang tidak bisa ditunda. Tapi dia sudah memastikan Ana punya uang cukup, dan dia sudah memesan taksi untuk mereka."Jaga diri," kata Sebastian sambil mencium kening Ana. "Jangan lama-lama. Aku khawatir.""Aku akan baik-baik saja," jawab Ana.Dia menggandeng tangan Ethan dan keluar.Taksi yang mereka naiki adalah taksi tua berwarna hitam dengan jok yang sudah mulai robek di beberapa bagian. Sopirnya pria paruh baya dengan rambut tipis dan kumis tebal, ramah, banyak bicara. Dia terus bercerita tentang anak-anaknya, tentang cucunya, tentang betapa dia menyukai hari-hari cerah seperti ini.Ana hanya menden
Ana duduk di lantai kamar tidur kecil di apartemen Sebastian. Ethan masih tertidur pulas di tempat tidur, memeluk dinosaurus plastiknya, tidak tahu bahwa dunia di luar sana sedang berubah dengan cepat. Ana menatap anaknya, wajahnya yang polos, rambut hitamnya yang sedikit keriting di ujung, bibirnya yang masih bergetar kecil saat bermimpi. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Ethan, lembut sekali, seperti takut dia akan terbangun."Kau tidak tahu apa yang terjadi. Kau tidak tahu bahwa dunia ini kejam. Tapi aku akan melindungimu. Aku berjanji."Ethan bergumam pelan dalam tidurnya, lalu kembali terlelap. Ana menarik tangannya perlahan. Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, London terbentang luas gedung-gedung tinggi, langit yang mulai mendung, dan di kejauhan, bayangan kabur dari mansion-mansion megah yang dulu dia kenali. Dia menatap ke arah barat, ke arah di mana Leon berada, mungkin sedang duduk di kantornya, atau di mansionnya, atau di mana pun tempat dia bersembunyi d
Author's Pov.Keesokan paginya, Ana terbangun dengan kepala berat dan mata sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak, pikirannya terus berputar tentang Leon, tentang Richard, tentang Clara, tentang semua ancaman yang menggantung di atas kepalanya dan Ethan. Dia hanya bisa memejamkan mata selama beberapa jam sebelum akhirnya menyerah pada rasa lelah yang tak kunjung hilang.Jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika bel apartemen berbunyi.Ana mengerang pelan. Dia menatap Ethan yang masih tidur pulas di sampingnya, memeluk dinosaurus plastiknya dengan erat. Perlahan dia bangkit dari tempat tidur, merapikan piyama lamanya yang sudah kusut, dan berjalan ke pintu dengan langkah gontai. Matanya masih berat karena kurang tidur. Pikirannya masih kacau karena semua masalah yang belum selesai."Mungkin Sebastian lupa sesuatu," gumamnya sambil membuka pintu tanpa melihat melalui lubang intip.Dunia seolah berhenti berputar.Adrian berdiri di ambang pintu.Dia masih tampan—mungkin lebih tam
Leon menatap Sebastian dengan tatapan tajam. "Lancaster?""Ya, Nama yang lumrah di sini," kata Sebastian.Leon menghela napas. Mungkin Sebastian benar. Lancaster adalah nama yang cukup umum. Tidak ada yang aneh dengan nama itu. Tidak ada yang mencurigakan. Dia terlalu banyak berpikir."Kau membawanya ke sini karena?""Aku tidak punya siapa pun untuk menjaganya. Pengasuhnya sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian."Leon mengangguk. Tidak ada yang aneh dengan itu.Dia kembali menatap Ethan. Anak itu duduk diam di kursi kulit hitam yang terlalu tinggi untuknya, kakinya menggantung tidak menyentuh lantai. Matanya yang hitam besar masih bergerak mengamati ruangan, penuh rasa ingin tahu, tapi tidak ada ketakutan. Tidak ada kegelisahan. Dia hanya duduk di sana, tenang, seperti anak kecil yang sudah terbiasa dengan lingkungan baru.Leon merasa ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang menggelitik di belakang kepalanya, tapi dia tidak bisa menangkapnya. Mungkin karena anak itu ter
Author's Pov.Matahari sore menyinari ruang kerja Leon melalui jendela kaca besar yang menghadap ke cakrawala London. Meja kayu mahoninya dipenuhi dokumen, laptop terbuka, dan tiga gelas kopi yang sudah dingin. Leon duduk di kursinya dengan setelan jas abu-abu, dasi biru tua yang sudah sedikit longgar. Wajahnya masih datar seperti biasa, tapi matanya menunjukkan kelelahan yang tidak bisa dia sembunyikan, lingkaran hitam tipis di bawah matanya, kerutan halus di dahi yang tidak pernah hilang akhir-akhir ini.Dia baru saja menandatangani dokumen terakhir ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan.Sebastian masuk.Dan di gendongannya, ada seorang anak laki-laki kecil.Leon mengangkat wajah. Matanya langsung tertuju pada Sebastian, pada jaket kulitnya yang basah karena gerimis di luar, pada ekspresi tegang di wajahnya yang garang, pada sesuatu yang berbeda dari dirinya lalu matanya bergerak ke arah anak kecil itu.Anak itu berusia sekitar lima tahun. Rambut hitam pekat, sedikit ker
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh
Akhirnya, setelah lima hari di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang.Dokter bilang jahitanku sudah mulai kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Aku masih harus istirahat total setidaknya seminggu lagi, tidak boleh melakukan aktivitas berat, dan tentu saja tidak boleh berhubungan intim.Leon men
Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan







