Sudah lebih dari sebulan aku mengurung diri di apartemen sewaan ini.Di balik jendela yang tak pernah kubuka, dunia terus berputar. Matahari terbit dan tenggelam. Mobil-mobil melintas. Orang-orang pergi bekerja, pulang bekerja, makan, tidur, dan mengulangi semuanya lagi keesokan harinya.Tapi di sini, waktu terasa membeku. Aku tak keluar. Aku hanya berbaring di kasur, menatap langit-langit yang retak, dan menunggu. Menunggu apa? Aku sendiri tak tahu.Apartemen ini seperti kapal karam. Bungkus makanan berserakan di lantai. Ada mi instan, roti, keripik, cokelat batangan yang dulu sangat aku hindari saat diet. Botol-botol air mineral kosong berjejer di samping kasur. Pakaian kotor bergelimpangan di kursi, di lantai, di atas lemari.Aku tak punya energi untuk membersihkan. Aku tak punya semangat untuk merapikan. Aku hanya makan, tidur, dan menangis.Uang pemberian Leon, yang dulu kupikir akan bertahan setahun atau dua tahun, kini sudah banyak berkurang. Aku tak bisa menabung, dan aku memb
Mehr lesen