Beberapa hari kemudian, rumah terasa sunyi. Alexandro pergi bekerja seperti biasa, meskipun dia berjanji akan mengurangi aktivitasnya. Tapi janji itu sepertinya hanya bertahan sebentar. Ada rapat, ada klien, ada proyek yang tidak bisa ditunda. Aku tidak bisa marah. Aku sudah terlalu sering marah.Aku duduk di ruang keluarga, memeluk bantal, menatap televisi yang tidak aku nyalakan. Rasanya bosan dan aku ingin melakukan sesuatu, tapi tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa keluar karena mual. Aku tidak bisa bekerja karena libur semester. Aku hanya bisa duduk di sini, menunggu waktu berlalu.My Mom, Isabella, duduk di kursi dekat jendela. Tangannya sibuk merajut. Benang biru muda melilit di jarumnya, membentuk pola-pola kecil yang rumit. Aku tidak tahu sejak kapan dia belajar merajut. Matanya fokus, tangannya terampil, dan sesekali dia tersenyum sendiri."Mom, itu untuk siapa?" tanyaku."Untuk cucuku, aku akan buatkan baju, topi, sepatu, dan selimut. Semua warna biru.""Kenapa bi
Read more