LOGINWARNING!! ⛔️⛔️ : MENGANDUNG KONTEN 21+ "Bukankah ini malam pertama kita? Aku siap menyerahkan tubuhku untumu, Tuan Alexandro," kata Lucia yang sudah memakai lingeri seksi. Alexandro hanya memandang dari atas sampai bawah tubuh Lucia, Lucia menunduk, ia juga tidak yakin jika pria itu mau menyentuh tubuh gendutnya. Alexandro mendekat dan semakin mendekat, ia mendorong Lucia sampai ia terduduk di lantai dan kepalanya mendongak ke arah suaminya. "Apa kau suka BDSM?" tanya Alexandro. Lucia menelan ludahnya kasar, ini adalah awal mimpi buruk baginya. *** Lucia tidak pernah hidup sebagai anak yang dicintai. Sejak orang tuanya meninggal, ia tumbuh dalam rumah pamannya dan dianggap seperti beban. Lucia bertubuh gendut, pendiam, dan selalu dibandingkan dengan sepupunya yang cantik, ia belajar menerima hinaan sebagai bagian dari hidupnya. Hingga satu hari, hutang gelap pamannya menyeret Lucia ke dalam pernikahan kontrak dengan Alexandro De Luca, pria berkuasa yang dingin, kejam, dan tak tersentuh. Pernikahan tanpa cinta itu menjadikan Lucia bahan ejekan di dunia elite yang kejam, bahkan di rumahnya sendiri. Ia dianggap aib dan istri yang tidak pantas berdiri di sisi seorang Alexandro De Luca.
View MoreCarlo Bianchi berdiri ragu di depan pintu besar itu. Tangannya berkeringat meski udara malam terasa dingin. Jas yang ia kenakan tampak rapi, tapi tidak mampu menyembunyikan kegelisahan di balik bahunya yang kaku. Dua pria berbadan besar berdiri di kanan kiri pintu, wajah mereka datar, mata tajam mereka terus mengawasi setiap gerakan Carlo. Salah satu dari mereka membuka pintu tanpa berkata apa pun.
Carlo melangkah masuk, Alexandro De Luca duduk santai di sofa besar berwarna gelap. Kemejanya terbuka satu kancing, dasinya terlepas. Seorang wanita berpakaian minim berada di atasnya, rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tawa pelan terdengar sangat menggoda. Alexandro mengangkat tangan sedikit setelah tahu ada yang masuk ke ruangannya, Wanita itu berhenti dan menoleh ke arah pintu, lalu ke arah Carlo. "Pergi," kata Alexandro singkat. Wanita itu turun tanpa protes, merapikan pakaiannya dengan wajah datar. Ia melirik Carlo sekilas lalu melangkah pergi melewati pintu samping. Ruangan kembali sunyi, Alexandro menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap Carlo tanpa ekspresi. "Duduk," kata Alexandro. Carlo menurut. Ia duduk di kursi di seberang sofa, punggungnya tegak tapi tegang. Kakinya bergerak gelisah. Alexandro mengambil gelas di meja, meneguk minumannya dengan tenang. "Aku datang untuk meminta waktu," kata Carlo. Alexandro mengangkat alis sedikit. "Waktu," ulangnya datar. "Iya, sedikit saja. Aku akan melunasi semuanya. Aku janji," kata Carlo sambil menelan ludah. Alexandro meletakkan gelasnya, bunyi kaca menyentuh meja terdengar jelas. "Kau sudah meminta waktu tiga kali," katanya pelan. Carlo menunduk. "Bisnisku tidak berjalan seperti yang kuharapkan." "Itu bukan urusanku," jawab Alexandro. "Aku tahu," Carlo cepat menyela. "Tapi aku sedang mencari cara. Aku..." "Carlo," potong Alexandro. Satu kata itu cukup membuat Carlo terdiam. "Utangmu tidak kecil dan bunganya tidak berhenti berjalan hanya karena kau terus meminta waktu padaku." Carlo mengepalkan tangan. "Aku bukan bermaksud menghindar. Aku hanya..." "Kau terlambat," kata Alexandro dingin. Carlo mengangkat kepala. "Aku mohon." Untuk sesaat, Alexandro hanya menatapnya. "Kau tahu apa yang paling tidak kusukai?" tanya Alexandro. Carlo menggeleng pelan. "Orang yang datang ke sini tanpa membawa solusi dan hanya membawa kata 'mohon'." Carlo menghela napas berat. "Aku tidak punya apa-apa lagi." "Aku beri kau satu kesempatan," lanjut Alexandro. Carlo menegakkan punggung. "Kesempatan apa?" Alexandro berdiri. Tingginya membuat Carlo reflek ikut berdiri, meski lututnya terasa lemah. "Bawakan aku sesuatu yang setara dengan nilaimu, sesuatu yang membuat utang itu dianggap lunas." Carlo terdiam cukup lama. "Seperti kepalamu," kata Alexandro sambil tersenyum licik. Carlo terkejut mendengarnya, Keringat dingin mengalir di tengkuknya. Ia tahu Alexandro tidak sedang bercanda. Pria itu tidak pernah melempar kata tanpa maksud. Carlo menelan ludah, lalu tanpa sadar matanya bergerak ke sudut ruangan, ke arah pintu samping yang baru saja tertutup. Di benaknya terbayang kembali perempuan yang tadi berada di atas Alexandro. Tubuh ramping, wajah cantik, kulit mulus. Perempuan malam, salah satu dari sekian banyak yang bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, dan entah dari mana, sebuah ide liar muncul. Carlo menghela napas, lalu berkata dengan suara yang lebih hati-hati, "Aku mungkin punya sesuatu." Alexandro mengangkat pandangan. Tidak antusias, tapi cukup tertarik untuk tidak menyela. "Apa itu?" tanyanya datar. "Aku punya seorang anak perempuan." Alexandro tidak bereaksi, wajahnya tetap sama. "Dia cantik, sangat cantik bahkan lebih cantik dari perempuan barusan." Ia tersenyum kecil, senyum putus asa yang mencoba menjual harapan. "Dia muda, cantik dan terdidik, bukan perempuan bayaran." Alexandro terkekeh pelan, bukan tawa keras dan hanya suara rendah yang penuh ketidakpedulian. "Kau pikir aku kekurangan perempuan, Carlo?" katanya. Carlo tersentak. "Bukan itu maksudku, tapi ini berbeda. Dia..." "Aku bisa mendapatkan perempuan mana pun. Model, aktris, putri orang kaya, atau perempuan jalanan. Tinggal sebutkan." Ia melangkah mendekat satu langkah. "Apa yang membuatmu berpikir putrimu istimewa?" Carlo terdiam sesaat, jantungnya berdetak keras. Namun, ia tidak bisa mundur. "Karena dia milikku dan aku menyerahkannya padamu." Alexandro menatap Carlo lama. "Siapa nama putrimu?" tanyanya. Carlo tersentak kecil, tapi cepat menjawab, "Elena." Alexandro mengulang nama itu pelan, lalu berbalik, berjalan kembali ke sofanya. Ia duduk, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Elena," ulangnya lagi. "Cantik, katamu." "Iya," Carlo mengangguk cepat. "Sangat cantik, semua orang memujinya. Dia bahkan..." "Berapa nilainya?" tanya Alexandro memotong. Carlo tercekat. "Maksudmu?" "Utangmu, apakah menurutmu satu perempuan secantik apa pun cukup untuk menutup semua itu?" Carlo terdiam, angka-angka itu muncul di kepalanya dan ia tahu jawabannya. "Tidak sepenuhnya, tapi itu bisa menjadi jaminan jika aku tidak akan kabur," jawab Carlo. Alexandro tersenyum tipis. "Kau masih belum mengerti." Ia berdiri lagi, lalu berjalan perlahan mengelilingi Carlo. Setiap langkahnya membuat Carlo semakin kecil. "Aku tidak membeli perempuan," lanjutnya. "Aku memilih." Carlo berbalik mengikuti geraknya. "Maka pilihlah dia. Kau tidak akan menyesal jika menikahi putriku." Alexandro berhenti tepat di depan Carlo. Jarak mereka dekat, terlalu dekat. "Bawakan fotonya," katanya. Carlo mengangkat kepala cepat. "Apa?" "Foto," ulang Alexandro. "Aku ingin melihat apa yang kau sebut cantik." Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Carlo merogoh tas kerjanya dengan tangan gemetar. Dari saku terdalam tempat ia biasa menyimpan dokumen penting, ia menarik keluar sebuah foto yang sudah agak usang di sudut-sudutnya. Foto itu terbungkus plastik bening, jelas sering dikeluarkan lalu disimpan kembali. "Aku selalu membawanya," kata Carlo terburu-buru. "Aku ingin kau melihatnya sekarang." Alexandro menoleh perlahan, tidak ada ketidaksabaran di wajahnya, tidak juga minat yang berlebihan. Ia hanya mengulurkan tangan, telapak terbuka, menunggu. Carlo menyerahkan foto itu. Selembar kertas kecil berpindah tangan namun bagi Carlo, rasanya seperti menyerahkan sesuatu yang jauh lebih besar. Alexandro menurunkan pandangannya ke foto itu. Itu foto keluarga. Diambil bertahun-tahun lalu, Carlo berdiri di tengah dengan senyum bangga. Di sampingnya, istrinya dan di depan adalah Elena. Cantik, bahkan dalam foto lama itu, kecantikannya menonjol. Rambutnya panjang dan terawat, wajahnya cerah, senyumnya percaya diri. Gadis yang memang lahir untuk diperlihatkan pada dunia. Carlo menahan napas. Ia memperhatikan wajah Alexandro dengan saksama, mencari tanda-tanda ketertarikan. Alexandro memiringkan foto itu sedikit, menatap lebih dekat. Matanya berhenti cukup lama pada Elena. Tidak ada senyum, tidak ada perubahan ekspresi yang jelas. Namun, Carlo melihatnya ada jeda. Alexandro tidak langsung mengembalikan foto itu. Ia menggeser pandangannya ke sosok lain di foto tersebut. Gadis di sisi yang sedikit terpinggirkan. Tidak berdiri di tengah, tidak menatap kamera dengan percaya diri. Tubuhnya lebih besar, senyumnya samar seolah ia tahu dirinya bukan fokus utama foto itu. Alexandro menatap foto itu lebih lama sekarang. "Ini..." gumam Alexandro pelan. Carlo mencondongkan tubuh tanpa sadar. "Elena," katanya cepat. "Putriku yang itu." Alexandro tidak menyahut. Ia tetap menatap foto itu, jarinya sedikit menekan bagian plastik yang melapisi wajah gadis di sisi foto. Carlo mulai gelisah. "Aku yakin kau akan tertarik," lanjutnya, mencoba menutup kegugupan. "Dia akan cocok berdiri di samping pria sepertimu."Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh terasa remuk. Setiap otot, setiap sendi, semuanya berdenyut mengingatkan pada malam yang liar. Di sampingku, tempat tidur kosong. Alexandro sudah pergi seperti biasa.Aku bangkit perlahan. Tubuhku telanjang, penuh bekas merah di sana-sini. Bekas gigitan, bekas cengkeraman, bekas tali. Aku berjalan tertatih menuju kamar mandi.Pintu kamar mandi kututup rapat. Air kuhidupkan, membiarkannya mengalir tanpa masuk ke bathtub. Aku duduk di lantai dingin, memeluk lututku, dan menangis.Air mata mengalir deras, membasahi pipi. Tangisku tertahan, hanya isak kecil yang keluar. Aku tidak ingin ada yang mendengar. Tidak ingin ada yang tahu.Kenapa aku menangis? Aku sendiri tidak tahu persisnya.Mungkin karena lelah. Mungkin karena sakit. Mungkin karena semua yang terjadi atau mungkin karena aku tidak tahu harus merasa apa lagi.Ponselku bergetar di atas wastafel. Aku meraihnya dan melihat layar.Elena.Aku menghela napas, menghapus air mata sebisanya, lalu meng
Sabuk itu terbuka. Ritsleting celananya turun dengan suara pelan di ruangan hening. Aku berlutut di hadapannya, tangan masih terborgol di depan, jantung berdebar kencang menunggu perintah selanjutnya.Alexandro duduk di kursi dengan santai, satu tangannya meraih rambutku, menggenggamnya lalu memaksa aku mendongak."Kau tahu apa yang aku mau?"Aku mengangguk."Katakan!""Kau mau aku memuaskanmu.""Bagaimana caranya?"Aku menelan ludah. "Dengan mulutku."Ia tersenyum puas. "Mulai."Aku mendekatkan wajahku. Dengan tangan terborgol, gerakanku terbatas dan kikuk tapi aku berusaha.Lidahku menjulur, menyentuh ujungnya. Alexandro menarik napas panjang. Aku terus menjilat, pelan-pelan membasahi, merasakan denyutnya di lidahku."Lebih," bisiknya.Aku membuka mulut, memasukkannya perlahan. Tenggorokanku terasa penuh. Tapi aku terus berusaha, kepalaku bergerak maju mundur dengan ritme yang kupelajari dari Mira.Tangannya di rambutku mengencang dan menuntun ritme."Iya... seperti itu..."Aku memp
Pintu rumah terbuka, aku masuk dengan langkah gontai. Tubuhku masih lemas setelah dua hari di rumah sakit tapi tidak ada waktu untuk istirahat. Paman sudah menelepon tadi pagi untuk mengingatkanku. "Jangan tunggu lama-lama. Cari dia lalu minta maaf. Lakukan sekarang juga!" Aku menaiki tangga dengan berat. Di lorong lantai dua, aku melihat pintu ruang kerja Alexandro setengah terbuka. Dari celah pintu, aku melihatnya. Alexandro berdiri di depan jendela besar. Punggungnya membelakangi pintu. Tangannya di saku celana sedang memandangi langit malam di luar. Aku mengetuk pintu pelan. Ia tidak bergerak dan tidak menjawab. Aku membuka pintu sedikit. "Alex?" Aku berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Alex, aku minta maaf." Ia masih diam. "Aku tahu aku salah. Aku seharusnya tidak bersikap cuek. Aku seharusnya tetap menjalankan tugasku sebagai istri." Tidak ada reaksi. "Aku minta maaf sudah membuatmu marah. Aku minta maaf sudah melawan. Aku minta maaf un
Gelap total.Aku duduk di lantai semen yang dingin, memeluk lututku, menangis dalam diam tapi semakin lama aku di sini, semakin gelap ini terasa akrab.Bukan. Bukan ruang bawah tanah ini tapi gelapnya, bau lembabnya dan kesendiriannya.Ingatan itu datang.Aku kecil. Mungkin lima atau enam tahun. Aku menangis karena ibu tidak pulang-pulang. Bibi datang, menarikku ke gudang belakang, pintu ditutup dan gelap."Berhenti nangis, atau kau di sini selamanya."Aku menangis lebih keras. Pintu tidak dibuka.Berjam-jam. Mungkin seharian. Aku tidak tahu. Yang kuingat hanya gelap, tikus berlarian. Aku menjerit tapi tidak ada yang datang.Elena kadang ikut mengurungku. Dia tertawa di balik pintu."Gemuk, di situ aja. Jangan keluar."Aku membenci mereka tapi lebih dari itu, aku takut.Takut gelap.Takut sempit.Takut sendirian.Dan sekarang, di ruang bawah tanah ini, rasa takut itu kembali. Bukan hanya takut tapi trauma. Luka lama yang menganga kembali.Aku tidak bisa bernapas.Dadaku sesak. Udara t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.