Mobil berhenti di garasi rumah. Marco membukakan pintu, aku turun dengan kaki masih gemetar. Gaun kremku sudah kusut, rambutku berantakan, aku bahkan tidak memakai sepatu.Aku melangkah masuk ke rumah. Lorong marmer yang dingin, lampu-lampu temaram, keheningan yang mencekik ean di ujung lorong, di pintu ruang tamu, Alexandro berdiri. Kemeja hitamnya masih sama, dasinya sudah dilepas, kancing atas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya menatapku dari ujung lorong.Aku tidak menunduk.Aku terus berjalan, melewatinya, masuk ke ruang tamu. Di tangga menuju kamar, aku berhenti."Aku akan ambil sesuatu."Aku naik. Kakiku terasa berat. Di kamar, koper besar yang Nathan bawa malam itu masih di pojok ruangan, tersembunyi di balik tirai. Aku membukanya. Uang itu masih utuh, bundelan-bundelan rapi, tidak berkurang satu pun. Aku menutupnya, menyeret koper itu ke tangga, menurunkannya satu per satu.Di ruang tamu, Alexandro sudah duduk di sofa. Satu kaki disilangkan, tangan di sandaran, me
続きを読む