Ia tersenyum. Senyum yang tidak hangat, tapi juga tidak dingin. Senyum yang membuatku takut dan ingin tahu dalam waktu yang sama."Kau akan menjadi milikku malam ini, Lucia. Sepenuhnya."Ia menarikku ke dalam pelukannya. Tubuhnya yang masih basah menempel di tubuhku. Tangannya merayap di punggungku, membelai, menekan, membuatku semakin melekat padanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, atau mungkin itu jantungku sendiri.Ia menunduk, mencium leherku. Bukan ciuman lembut. Ciuman yang lapar, yang meninggalkan bekas basah di kulitku. Aku menggigit bibir menahan desahan."Kamar," bisiknya di telingaku. "Sekarang."Ia menarik tanganku, membawaku menaiki tangga menuju kamar di lantai atas. Langkahnya tegas, tidak memberi ruang untuk ragu. Aku mengikutinya, kakiku gemetar, tapi aku tidak berhenti.Pintu kamar terbuka. Kamar ini gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela besar. Tempat tidur dengan seprai putih bersih, lilin-lilin di sudut ruangan, dan aroma lav
Read more