Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh terasa remuk. Setiap otot, setiap sendi, semuanya berdenyut mengingatkan pada malam yang liar. Di sampingku, tempat tidur kosong. Alexandro sudah pergi seperti biasa.Aku bangkit perlahan. Tubuhku telanjang, penuh bekas merah di sana-sini. Bekas gigitan, bekas cengkeraman, bekas tali. Aku berjalan tertatih menuju kamar mandi.Pintu kamar mandi kututup rapat. Air kuhidupkan, membiarkannya mengalir tanpa masuk ke bathtub. Aku duduk di lantai dingin, memeluk lututku, dan menangis.Air mata mengalir deras, membasahi pipi. Tangisku tertahan, hanya isak kecil yang keluar. Aku tidak ingin ada yang mendengar. Tidak ingin ada yang tahu.Kenapa aku menangis? Aku sendiri tidak tahu persisnya.Mungkin karena lelah. Mungkin karena sakit. Mungkin karena semua yang terjadi atau mungkin karena aku tidak tahu harus merasa apa lagi.Ponselku bergetar di atas wastafel. Aku meraihnya dan melihat layar.Elena.Aku menghela napas, menghapus air mata sebisanya, lalu meng
Last Updated : 2026-06-07 Read more