Udara dingin dari AC di ruang bersalin itu tak mampu meredam peluh yang membanjiri tubuh Zea. Setiap otot di tubuh mungilnya menegang, bersiap menghadapi puncak dari segala rasa sakit yang telah menggerogotinya selama beberapa jam terakhir. "Baik, Zea, dengarkan instruksi saya," suara dr. Andin terdengar tenang namun tegas. "Begitu gelombang mulasnya datang, tarik napas panjang dari hidung, tahan di perut, tundukkan kepala melihat ke arah perut, dan mengejan ke bawah dengan kuat. Jangan bersuara di tenggorokan, fokuskan tenaganya ke bawah. Mengerti?" Zea hanya bisa mengangguk lemah. Matanya setengah terpejam, napasnya memburu. Dewa mempererat pelukannya di punggung atas Zea. Lengan kirinya menjadi sandaran kokoh bagi kepala istrinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat telapak tangan Zea yang terasa dingin dan gemetar. "Aku di sini. Kamu bisa, Zea," bisik Dewa tepat di telinga istrinya. Intonasi suaranya yang berat dan dalam seolah memberi energi baru ke dalam tubuh
آخر تحديث : 2026-09-29 اقرأ المزيد