Viola meringkuk di atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut sembari menangis sesenggukan.“Nggak mungkin...” bisiknya parau, hampir tak terdengar. “Mama tidak seperti itu. Mama... mama baik.” Viola masih terus menyangkal.Dunia yang selama ini Viola bangun dalam imajinasinya, tentang sosok mama yang terzalimi dan impian keluarga yang utuh kembali, baru saja hancur berkeping-keping oleh ucapan Karina."Vio, Sayang... buka pintunya, Nak. Tolong dengarkan penjelasan Mama dulu."Ketukan itu terdengar semakin keras, diikuti suara memohon Felisa yang semakin panik dan putus asa.“Jangan dengar ucapan Tante Karin. Kau tahu sendiri kan, dia sakit hati karena pernikahan dengan papamu sampai sekarang nggak ada kejelasan.”Viola bergeming, menutup telinga rapat-rapat dengan bantal, mengabaikan ketukan pintu dan panggilan dari mamanya.Dada Viola terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Kecewa, marah, dan malu bercampur menjadi satu di dada V
Read more