Jemari lentik Jovita terus bergerak lincah. Setiap kancing yang terbuka, Jovita mengecup dada bidang Raymond dengan kelembutan bibirnya.Raymond mendesah pelan, tangannya yang besar menyusup ke dalam rambut Jovita, meremas pelan tengkuk hingga Jovita mendongak.Dengan mata sayu penuh gairah, Raymond menatap Jovita lalu menyatukan bibirnya dan memperdalam ciuman mereka. Lidahnya menyusup masuk, menari dengan lidah Jovita dalam irama yang semakin panas dan mendesak.“Kamu tahu kan cuma ciuman seperti ini, tak akan pernah cukup?” bisik Raymond di sela ciuman, suaranya rendah dan berat penuh gairah.Jovita menggigil, napasnya tersengal. “Ya, Om.”Raymond membaringkan Jovita di atas ranjang dengan lembut, lalu naik ke atas tubuh mungil istrinya. Kemejanya sudah terlepas sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang dan perut berototnya. Pemandangan yang bertolak belakang dengan tubuh ramping Jovita yang tampak ringkih.Raymond menatap Jovita dalam-dalam, penuh kelembutan sekaligus gairah yang mem
Read more