“Aku mohon, Jo.”Karina menatap Jovita penuh harap dengan sisa air mata di pipinya, memohon agar gadis di hadapannya itu mau menjadi jembatan perdamaian antara dirinya dan Viola. Tapi, Jovita hanya bisa terdiam, lidahnya kelu dan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang kian menghimpit.Di tengah suasana hening dan tegang itu, keheningan di dalam kabin sedan mewah tersebut mendadak pecah oleh dering ponsel Jovita. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama kontak ‘Om Raymond’.Melihat nama itu, jantung Jovita serasa berhenti berdetak. Ia semakin gugup, telapak tangannya berkeringat dingin. Diliriknya Karina yang juga sempat melirik ke arah ponsel tersebut. Tanpa pikir panjang, didorong oleh rasa panik, Jovita dengan cepat menekan tombol daya dan memilih untuk mematikan ponselnya.Karina menghembuskan napas berat, mencoba menguasai emosinya kembali. "Bagaimana, Jo? Tolong bantu aku," tanya Karina lagi, nadanya mendesak. "Kalau kamu berhasil melunakkan hati Viola, aku berjanji akan memb
Read more