Saat ini rumah besar yang biasanya sepi, rumah pak lurah, tambah terasa lebih pengap dari biasanya. Udara siang yang panas seolah ikut terjebak di dalam ruangan berplafon rendah itu. Pak Lurah duduk di kursi tamu dengan punggung membungkuk, tangan saling menggenggam erat di pangkuan. Di seberangnya, ada Suroto yang bersandar santai dengan kaki disilang, senyum tipis yang lebih meremehkan sebenarnya, yang sudah terlalu familiar terpampang di wajahnya. Sementara Bu Lurah berdiri di dekat pintu dapur, tubuhnya kaku, tidak berani duduk.“Aku udah bilang berulang kali,” kata Suroto datar. “Desa ini butuh ketertiban. Sejak Yoga menghilang, orang-orang mulai berani lagi. Ada yang menunda setoran, dan ada juga yang mulai bicara di belakang. Kalau dibiarkan, nanti mereka lupa siapa yang berkuasa di sini.”Pak Lurah mengangkat wajah, suaranya terdengar lemah tak punya wibawa. “Saya sudah mengeluarkan imbauan. Saya sudah…”“Imbauan aja tidak cukup,” potong Suroto. Dia menatap Bu Lurah dengan sen
Last Updated : 2026-09-29 Read more