Share

Chapter 53

last update publish date: 2026-09-18 23:34:33

Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.

Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 89

    Situasi dan kondisi di lantai isolasi terasa menekan, oksigen pun terasa semakin tipis.Direktur berdiri di ruang komando dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap data residual Yoga yang kini menunjukkan pola yang tidak lagi bisa dianggap “stabil”. Fluktuasi kecil yang dulu diabaikan kini muncul lebih sering. Sistem otomatis masih menutup retakan di gelang energi, tapi jeda antara retakan dan perbaikan semakin pendek. Residual subjek tidak lagi hanya bertahan, tapi dia menunggu.“Protokol panen dimajukan ke malam ini,” kata Direktur datar. “Saya tidak akan memberi dia waktu lagi. Siapkan sedotan residual tingkat tinggi. Isolasi total. Staf perempuan tetap dikarantina. Siapa pun yang menolak perintah… dianggap menghambat operasi. Gunakan protokol pelanggar.”Dr. Halim yang berdiri di sisi ruangan tidak langsung menjawab. Jari-jarinya mengetuk tablet dengan irama dengan kesan yang terlalu tenang. Di dalam kepalanya, pesan balasan dari kontak di Dewan masih terbayang.‘Jika p

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 88

    Hari ini adalah hari keenam Lira berada di pulau ini, dan semuanya terasa lebih panjang bagi tim Intel yang sedang melakukan penyamaran.Lira berhasil menyalin satu fragmen log lagi, kali ini dari sistem pendingin lantai bawah yang “bocor” sedikit data saat ada perawatan rutin. Fragmen itu tidak lengkap. Hanya deretan kode dan satu frasa yang berulang.*Residual Subject-01 stability increasing beyond predicted threshold.*Tidak ada nama, tidak juga ada foto. Tidak ada koordinat pasti ruangannya, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lira menatap layar kecil di dalam sepatunya lebih lama dari biasanya.Rekan logistiknya menemukan sesuatu yang lebih mengganggu akal sehatnya di saat memindahkan kotak-kotak “sampel biologis” yang seharusnya menuju gudang permukaan, salah satu kotak retak sedikit di sudut. Dari dalam, tercium bau formaldehida yang bercampur dengan aroma logam panas. Di label yang hampir terhapus, tertulis kode ‘T-27’. Ketika dia mencoba mencari kode itu di sistem inventaris,

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 87

    Intel yang sudah dibentuk sebagai tim penyamaran, pada akhirnya mendarat tidak bersamaan. Ini demi keamanan tentunya, karena sedang melakukan investigasi secara rahasia.Lira tiba lebih dulu, memakai identitas sebagai teknisi listrik lepas yang dikirim oleh perusahaan cover untuk “memeriksa generator cadangan”. Dua rekannya menyusul dalam selang waktu tiga puluh enam jam, satu sebagai staf logistik, satu lagi sebagai peneliti junior yang baru dipindahkan dari fasilitas lain. Mereka tidak saling menyapa di depan umum, bahkan di koridor yang sama, pandangan mereka tidak bertemu lebih dari sepersekian detik. Semua menjaga rahasia ini secara terlatih.Pulau itu lebih sunyi daripada yang mereka bayangkan. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak yang natural sebagaimana tempat yang memang dikelilingi oleh lautan. Hanya suara dengung mesin yang konstan dari bawah tanah, seolah pulau itu sendiri bernapas melalui ventilasi tersembunyi.Lira berjalan di belakang seorang petugas keamanan lokal y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 86. Menikmati Dendam Yang Basah

    Malam ini, di klinik desa kembali menjadi milik dua orang saja. Pak Lurah dan Bidan Riana, seakan-akan tidak memperdulikan keberadaan manusia lainnya.Hujan memang tidak turun seperti kemarin, tapi udara terasa lembab dan berat. Bahkan Pak Lurah datang lebih awal dari biasanya, langsung mengunci pintu begitu masuk, lalu menarik Bidan Riana ke dalam pelukannya tanpa banyak kata. Ciuman yang langsung menyusul dengan kasar, lapar, hampir seperti sedang marah. Sementara Bidan Riana membalas dengan sama kuatnya, jari-jari masuk ke rambut pria itu, tubuh menekan balik. Memberikan perlawanan yang seimbang pastinya.Mereka tidak lagi berpura-pura ini hanya soal kehangatan, tapi apa yang mereka lakukan adalah kebutuhan yang memang milik mereka.“Ahhh… Bapak…”“Yahhh… panggil aku!” Pak Lurah menyahut dengan dominasi seorang pria.Pak Lurah mendorong Riana ke ranjang periksa, menarik seragam putih yang belum sempat dilepas itu hingga kancing-kancingnya berhamburan. Membuat P4yudara Riana terpapa

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 85

    Di tempat yang jauh dari pulau kecil yang tidak pernah tercantum di peta mana pun, di mana ada kehidupan yang tidak pernah disangka-sangka, nyatanya tetap saja tercium dan terpantau secara diam-diam tanpa ada yang tahu.Di sana, di sebuah ruangan tanpa jendela di markas intelijen militer pusat, layar-layar menyala redup. Beberapa perwira berpangkat menengah hingga tinggi duduk mengelilingi meja oval. Di dinding ruangan, ada peta laut dilengkapi titik-titik koordinat yang sengaja dikaburkan. Salah satu titik itu berkedip pelan, koordinat yang selama bertahun-tahun dianggap hanyalah “kosong”.Kolonel Arga, kepala divisi operasi khusus, mengetuk meja pelan. Suaranya rendah tapi jelas.Tuk tuk tuk…“Kita sudah mengabaikan desas-desus ini terlalu lama. Tiga tahun terakhir, bahkan ada laporan tidak resmi tentang aktivitas tidak wajar di kawasan perairan terpencil itu. Kapal-kapal yang hilang dari radar untuk beberapa jam, sinyal elektromagnetik yang aneh, dan dua warga sipil yang sempat mel

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 84

    Malam berganti dengan pagi, dan seperti biasa di laboratorium dimulai dengan alarm kecil yang tidak seharusnya berbunyi.Ini bukan alarm residual, bukan pula alarm penahanan. Melainkan alarm medis di blok hunian staf. Seorang teknisi perempuan junior ditemukan pingsan di kamar mandi, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin, paha dalamnya masih menyisakan jejak basah yang tidak bisa dijelaskan oleh pemeriksaan biasa. Denyut nadinya juga kacau dengan pupil mata yang melebar tidak wajar. Dan yang paling mengganggu dari kejadian ini,di saat sadar dia hanya bisa bergumam satu nama berulang kali.“Yoga… Yoga… dia yang masuk… dia yang masuk…”Vesper yang pertama tiba di lokasi jadi pucat wajahnya, tapi dia memaksakan diri supaya tetap terlihat tenang karena profesionalisme. Dia memerintahkan teknisi itu dibawa ke ruang medis terbatas, menjauhkannya dari staf lain, dan mengunci laporan awal. Tapi sudah terlambat, sebab bisik-bisik rekan sudah menyebar lebih cepat daripada protokol yang seha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status