“Kita jalani saja dulu, Nduk. Kamu itu masih muda, dan masa depan kamu masih panjang. Pandangan kamu juga, harusnya masih luas ke depan.”Lily tidak menjawab apapun meski hanya anggukan kepala, tapi ia pasti berusaha paham untuk semua yang Danu katakan padanya.Setidaknya, hati Lily juga lega karena sudah bisa ungkapkan apa saja yang ia rasakan sekarang dan ia pendam di dalam hati cukup lama.Pelukan itu lepas, dan Lily duduk rapi di samping Danu dengan kepalanya yang tertunduk malu. Tapi, Danu tersenyum dan kembali seka airmata Lily yang membasahi wajahnya itu.“Udah, Nduknya pakde ngga boleh nangis lagi. Malu sama hujan,” ledeknya.Lily mengangguk, dan ia usap airmatanya agar tangisnya tak terbaca oleh mereka semua ketika pulang ke kost.“Setelah ini, Lily harus jadi Lily yang seperti biasanya, ya. Pakde ngga mau, gara gara ini Lily jadi diem atau malah segan sama pakde. Kita jalani semuanya dengan baik, bersama yang lain. Kita juga ngga tahu, ke depannya akan bagaimana nanti.”“Iya
Read more