Susan membalas tatapan yang diberikan Silvy dengan datar, tapi wanita itu justru semakin kuat memeluk kresek buahnya dan ia bawa ke dapur umum untuk di taruh dalam kulkas.“Eh, itu punya-“ Tangan Danu langsung digenggam oleh Susan agar tidak lanjutkan bicaranya.“Udahlah, Pakde. Ngga usah dianu, nanti dia ngambek lagi. Udah, biarin aja. Itu Cuma buah,” ucap Susan padanya.“Iya, cuma buah. Tapi, tingkahnya itu loh.” Danu terlihat sebal.“Iya, Susan tahu. Udah, ya? Nanti Susan beli buah lagi untuk Susan dan yang lain, terus Susan bawa ke kamar. Susan kan, ada kulkas mini sendiri.” Janda cantik itu mengusap bahu Danu, berusaha untuk menenangkannya sejenak dari amarah yang menggumpal di hatinya.Susan meminta Danu untuk segera masuk ke rumahnya, mandi dan istirahat sebelum makan malam.Sepertinya, kali ini mereka tidak makan malam bersama karena yang lain pergi. Ainun, Ane tak ada. Kalau hanya sedikit dan ada Silvy, rasanya kurang nyaman bagi mereka.“Dek, kamu udah makan?” tanya Susan ya
Read more