"Kamu ngelakuin itu... buat aku, Bay?" suara Nyonya Selin bergetar, air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh membasahi pipinya yang mulus. "Tentu saja, Nyonya. Saya nggak akan pernah membiarkan siapa pun, apalagi bajingan seperti Anton, menyakiti atau merendahkan Nyonya. Nyawa saya taruhannya," jawab Bayu tegas, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Nyonya Selin tanpa keraguan sedikit pun. Mendengar itu, pertahanan Nyonya Selin runtuh. Tanpa aba-aba, dia menubruk tubuh tegap Bayu, melingkarkan lengannya erat-erat di leher sang sopir. Tangisnya pecah di ceruk leher pria itu. "Bay... terima kasih... hiks... terima kasih banyak," isak Nyonya Selin, jari-jarinya mencengkeram kemeja Bayu dengan putus asa. Bayu terkesiap sejenak, namun hatinya lekas menghangat. Dengan lembut, tangan besarnya membalas pelukan itu, mengelus punggung Nyonya Selin yang bergetar. "Ssst... sudah, Nyonya. Nyonya aman sekarang. Bajingan itu sedang sibuk meratapi nasibnya di aspal dingin," bisik
Read more