"Dulu kamu mencoba merayu Bram, dan sekarang kamu mengemis kenikmatan pada pria yang setiap malam memuja tubuhku sampai fajar menyingsing!" Mata Dinda berkilat murka seraya berusaha menepis cengkeraman kuku berpoles merah menyala di dagunya. "Kak Selin cuma menang harta warisan!" semprot Dinda dengan napas tersengal-sengal menahan sakit. "Tubuhku jauh lebih kencang, ranum, dan liar untuk memuaskan kejantanan Mas Bayu dibanding rahimmu yang ringkih itu!" Nyonya Selin melepaskan cengkeramannya seraya mengibaskan tangan dengan ekspresi jijik layaknya baru saja menyentuh sampah jalanan. Wanita berkelas itu kemudian berbalik menatap Bayu, lalu membelai lembut rahang kokoh sang sopir pribadi. "Katakan di depan wajah adik tiriku yang gatal ini, Bayu..." bisik Nyonya Selin seraya menuntun telapak tangan kasar Bayu mendarat tepat di atas perut ratanya. "Siapa satu-satunya wanita yang berhak menikmati keringat, kesetiaan, dan tenagamu seumur hidupmu?" Dinda menatap nanar seray
Leer más