Mobil mewah itu akhirnya berhenti mulus di lobi gedung perkantoran elite tanpa ada percakapan apa pun lagi di antara mereka. "Nah, sampai," ucap Bram, bersiap turun. "Mari saya bukakan pintunya, Pak." Bayu buru-buru keluar dari mobil untuk membukakan pintu Bram, sang majikan. Bram yang tampak puas dengan pelayanan Bayu, mengangguk sambil tersenyum lebar. "Sip. Nanti sore stand by jemput aku jam lima ya, Bay. Kalo kamu yang nyupir gini, aku jadi tenang." "Siap, Pak Bram." "Sekarang kamu bawa mobilnya. Antar nyonya ke mana pun dia mau. Jaga dia baik-baik, hari ini dia libur kerja, biarkan sedikit menikmati liburan," ucap pak Bram lagi, menoleh ke arah nyonya Selin dengan tatapan cinta, yang diam-diam membuat Bayu muak. "Pasti, Pak. Akan saya awasi setiap gerak-gerik Nyonya dengan sangat ketat." Bayu menjawab dengan sopan, membuat Bram terkekeh lagi. "Ya, Bayu. Kalau sama kamu, aku percaya." Begitu pintu ditutup dan sosok Bram menghilang ke dalam lobi gedung, suasana di da
Read more