Sore harinya, saat Bayu baru saja selesai mandi dan sedang memijat pundak bapaknya di teras rumah, kehebohan kembali terjadi. Kali ini bukan sekadar godaan, melainkan rombongan warga yang dipimpin oleh Pak RT dan Pak Kades, berjalan tergesa-gesa membelah pekarangan rumahnya. Di tengah-tengah rombongan itu, ada Ningsih. Gadis itu sudah mandi, memakai baju tertutup, dan wajahnya disembunyikan di balik kedua tangannya. Ia menangis tersedu-sedu, didampingi oleh ibunya yang menatap Bayu dengan garang. "Ada apa ini, Pak RT? Pak Kades? Kok tumben rombongan?" sapa Pak Joko, bapak Bayu, yang langsung berdiri dengan bingung. Bayu ikut berdiri, keningnya berkerut. Firasatnya mendadak tidak enak. "Pak Joko, saya minta maaf harus datang bawa keributan," buka Pak Kades dengan wajah tegang. Ia menoleh ke arah Bayu. "Bayu, Bapak nggak nyangka. Mentang-mentang kamu sekarang sukses di kota, badannya bagus, kamu pikir kamu bisa berbuat seenaknya sama perempuan di desa ini?!" Bayu terperanjat
اقرأ المزيد