"Namanya juga waktu berjalan, May," jawab Bayu santai, masih belum menyadari perubahan gelagat perempuan itu. "Aku... aku nyesel, Bay," isak Maya, suaranya kini berubah menjadi rengekan parau. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dulu aku buta. Aku ninggalin kamu demi laki-laki bajingan itu. Padahal sejak SMP cuma kamu yang selalu ngejaga aku, cuma kamu yang tulus..." Bayu memundurkan tubuhnya sedikit. "Maya, itu udah masa lalu. Nggak usah dibahas lagi. Kita masih kecil waktu itu." "Nggak, Bay! Ini bukan sekadar masa lalu!" Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Maya meraih kedua tangan Bayu dan menggenggamnya erat-erat. Jari-jarinya yang dingin meremas punggung tangan Bayu yang kasar dan hangat. "Aku butuh kamu, Bay. Aku butuh tempat bersandar. Sama kamu... aku ngerasa aman." Bayu menarik tangannya perlahan tapi bertenaga, melepaskan genggaman Maya. Ekspresinya yang tadi prihatin kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus. "Maya, sadar. Kamu masih istri orang. Dan aku bukan te
Read more