Ancaman sadis itu sukses membuat Maya menelan ludah. Rasa takutnya pada amarah Bayu mengalahkan rasa takutnya pada gelap. Dengan tubuh gemetar hebat dan napas tersengal, Maya melangkah masuk ke dalam lemari kayu itu, bersembunyi di antara tumpukan baju kotor Bayu. Bayu menutup pintu lemari itu pelan-pelan agar tidak berderit. Setelah memastikan semuanya aman, ia mengacak-acak rambutnya, menetralkan raut wajahnya, lalu memutar kunci dan membuka pintu kamarnya. Pak Joko berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat sambil memegangi dada. Pria paruh baya itu menatap Bayu dari atas sampai bawah dengan kening berkerut. "Lama bener kamu buka pintu. Ngapain aja kamu di dalam?" selidik Pak Joko, matanya menyapu seisi kamar yang berantakan. "Maaf, Pak. Tidurnya pules banget, beneran baru sadar," kekeh Bayu canggung, menggaruk belakang kepalanya. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Pak Joko melangkah masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba, pria itu mengendus udara. Hidun
Read more