เข้าสู่ระบบ"Bagaimana kamu bisa berada di lantai khusus ini?!" semprot Nyonya Selin dengan amarah yang seketika mendidih kembali. Dinda tertawa melengking seraya melangkah mendekat dengan dentingan hak tinggi yang arogan. "Uang seratus juta bisa membeli mulut perawat laboratorium mana pun untuk membocorkan hasil tes darahmu, Kak Selin!" seringai Dinda seraya mengibaskan kertas laporan tersebut ke depan wajah sang kakak tiri. "Ternyata dugaanku dan para tetua keluarga tempo hari tepat seratus persen!" Dinda menatap Nyonya Selin dengan tatapan meremehkan yang membakar ulu hati. "Kamu cuma janda mandul yang pura-pura bunting demi menjerat brondong desa dan mengamankan kursi direksi!" caci Dinda tanpa belas kasihan. Rahang Bayu mengeras kaku mendengar hinaan kotor itu dilontarkan kembali kepada wanita yang dipujanya. Bayu melangkah maju satu tapak besar, menempatkan tubuh tegapnya menghadang langkah sang adik tiri. "Tutup mulut berbisa Nona sekarang juga sebelum saya menyeret Anda
Telapak tangan besar Bayu yang kasar bergerak menelusuri lekuk pinggang sang nyonya, lalu meremas lembut aset kebanggaan majikannya dengan ritme yang memabukkan. Sentuhan penuh kepemilikan itu membuat punggung Nyonya Selin melengkung pasrah di atas permukaan jok kulit. "Lepaskan kemejamu, Bay... aku mau merasakan kulit kasarmu menempel langsung di tubuhku," bisik Nyonya Selin seraya menarik kancing baju sang pemuda hingga terlepas. Bayu menyentakkan kemeja hitamnya ke lantai mobil, mengekspos otot dada dan perut kotak-kotak khas kuli bangunan yang berkilat oleh keringat hangat. Ketika permukaan dada bidang sang pemuda menekan lembut dua buah melon kenyal milik sang nyonya, desahan panjang kembali pecah membelah keheningan. "Ahhh... tubuhmu selalu terasa sangat panas, Bay," rintih Nyonya Selin seraya mengusap garis otot punggung Bayu yang kokoh. "Buktikan padaku malam ini bahwa tidak ada wanita lain yang berhak menikmati keperkasaan ini selain diriku!" Bayu menyeringai ti
"Dulu kamu mencoba merayu Bram, dan sekarang kamu mengemis kenikmatan pada pria yang setiap malam memuja tubuhku sampai fajar menyingsing!" Mata Dinda berkilat murka seraya berusaha menepis cengkeraman kuku berpoles merah menyala di dagunya. "Kak Selin cuma menang harta warisan!" semprot Dinda dengan napas tersengal-sengal menahan sakit. "Tubuhku jauh lebih kencang, ranum, dan liar untuk memuaskan kejantanan Mas Bayu dibanding rahimmu yang ringkih itu!" Nyonya Selin melepaskan cengkeramannya seraya mengibaskan tangan dengan ekspresi jijik layaknya baru saja menyentuh sampah jalanan. Wanita berkelas itu kemudian berbalik menatap Bayu, lalu membelai lembut rahang kokoh sang sopir pribadi. "Katakan di depan wajah adik tiriku yang gatal ini, Bayu..." bisik Nyonya Selin seraya menuntun telapak tangan kasar Bayu mendarat tepat di atas perut ratanya. "Siapa satu-satunya wanita yang berhak menikmati keringat, kesetiaan, dan tenagamu seumur hidupmu?" Dinda menatap nanar seray
Kedua tangan Dinda kini melingkar erat di leher kekar Bayu, menarik kepala pemuda itu agar semakin merunduk ke arah wajahnya. "Kak Selin itu sudah berumur, kaku, dan sekarang tubuhnya bakal melar karena mengaku-ngaku hamil anakmu!" hasut Dinda tanpa ampun merendahkan sang kakak tiri. "Kamu yakin sanggup bertahan melayani wanita manja yang temperamental seperti Kak Selin seumur hidupmu?" Bayu menatap tajam ke dalam manik mata Dinda yang berkilat licik di bawah temaram lampu lorong. "Nyonya Selin adalah wanita paling terhormat yang mengangkat derajat keluarga saya dari kemiskinan," tegas Bayu dengan suara dingin yang menusuk. Dinda tertawa meremehkan seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Uang Kak Selin bisa kuberikan dua kali lipat kepadamu, Mas!" bisik Dinda seraya merapatkan selangkangannya ke tubuh Bayu. "Jadilah milikku malam ini... tinggalkan sandiwara kehamilan konyol Kak Selin itu dan bersenang-senanglah bersamaku di lantai atas." Jari-jemari Dinda mulai meraba
Bayu mengepalkan tinjunya di atas meja jati hingga serat kayu tebal itu berderak pelan mengeluarkan bunyi retakan halus. "Tangan kuli saya tidak akan segan-segan menyeret kalian keluar dari gedung ini tanpa membawa sepeser pun saham perusahaan." Nyali Paman Tirta dan Bibi Widya seketika menciut menyaksikan sorot mata buas dan tenaga alami pemuda desa di hadapan mereka. Dinda menelan ludah dengan susah payah merasakan debaran kencang di dadanya saat melihat kegagahan Bayu yang begitu protektif melindungi wanita pujaan hatinya. 'Tuhan... cowok ini benar-benar jantan dan berbahaya, aku harus bisa merebutnya dari tangan Kak Selin bagaimana pun caranya,' desir batin Dinda kian terobsesi. Nyonya Selin menyentuh pelan pundak kokoh Bayu, memberi isyarat bahwa kendali tetap berada di tangannya. Wanita pemimpin perusahaan itu merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah map putih berlogo laboratorium rumah sakit internasional kota. Map berisi hasil tes darah kehamilan dan ultra
Lampu gantung kristal di ruang pertemuan utama mansion keluarga besar Wijaya memantulkan kilau kemewahan yang dingin dan kaku. Meja panjang berbahan kayu jati solid itu dikelilingi oleh para tetua keluarga, paman, bibi, dan para pemegang saham trah Wijaya yang duduk dengan dagu terangkat pongah. Nyonya Selin berdiri tegak di ujung meja mengenakan gaun terusan beludru hitam berkelas, memancarkan pesona ratu bisnis yang pantang tunduk. Tepat di sebelah kanannya, Bayu berdiri tegap mengenakan kemeja hitam pas badan yang mencetak jelas ketebalan dada bidang dan pundak kekarnya. "Aku mengumpulkan kalian semua malam ini bukan untuk meminta pertimbangan kosong," buka Nyonya Selin dengan suara lantang yang menggetarkan seisi ruangan besar itu. "Minggu depan, aku akan menggelar pernikahan resmi dengan pria di sebelahku ini, Bayu Wardana." BRAAAK! Gebrak meja yang teramat keras dari Paman Tirta seketika membuat cangkir-cangkir porselen di atas meja berdenting liar. "Kamu sudah
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







