"Urut milikku."Suara Rayyan bukan lagi perintah, melainkan sebuah proklamasi yang menggetarkan isi ruangan. Amira tertegun, wajahnya memerah padam hingga ke ujung telinga, napasnya memburu tertahan di tenggorokan. "Yang Mulia... hamba...""Aku tidak suka mengulangi perintahku dua kali, Amira. Dan kau tahu apa konsekuensinya jika kesabaranku habis." Nada suara Rayyan berubah menjadi dingin, tajam, dan berbahaya—seperti pedang yang siap menebas leher siapa pun yang berani membangkang.Amira merasakan dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup begitu kencang, dentumannya terasa hingga ke rongga dada, membuatnya takut detakan itu terdengar sampai ke telinga Sultan yang kini menatapnya dengan intensitas yang membakar. Tangannya yang sedingin es, kini bergetar hebat saat ia harus menyentuh kain sutra yang menutupi kejantanan pria di hadapannya.Dan.. di tempatnya, Rayyan tidak melepaskan tatapannya sedetik pun. Ia tampak menikmati kengerian sekaligus ketunduka
最終更新日 : 2026-07-18 続きを読む