"Biarkan aku mendengarnya, Amira... Menjeritlah untukku! Panggil namaku, pelayan!" tuntut Rayyan serak, memicu ketukannya menjadi lebih liar, membentur titik paling sensitif di dalam diri Amira secara bertubi-tubi.Sultan Rayyan merendahkan tubuhnya, saat bibir dan lidahnya yang panas menerkam langsung puncak dada Amira yang mengeras kaku—memangsa, menyedot, dan memilin puting merah itu dengan taringnya secara buas hingga rintihan Amira melengking basah.Bersamaan dengan itu, tangan kanan Rayyan yang berada di bawah menyusup ke sela paha mereka yang saling bergesekan kencang. Ibu jari berkapalan sang Sultan mendarat akurat di atas klitoris Amira yang membengkak sensitif, lalu memutar dan mengocoknya dengan ritme cepat, intens, dan menekan penuh keintiman.Guncangan ganda itu menghancurkan pertahanan Amira. Hunjaman ketukan panggul Rayyan yang makin bertubi-tubi di bawah sana, jilatan buas di puncaknya, serta putaran ibu jari Rayyan pada intinya meledakkan sengatan listrik yang belum p
最終更新日 : 2026-07-28 続きを読む