"Ayo kita pergi dari sini, Ratna," desis Haryo. Suaranya tak lagi menggelegar oleh amarah, melainkan sedingin es, tenang, namun menyimpan keputusan yang tak mungkin digoyahkan. "Lebih baik kamu cari laki-laki lain." Ucapan itu membuat dunia Ratna seakan berhenti berputar. Matanya membelalak lebar, menatap ayahnya dengan sorot penuh keterkejutan, seakan tak percaya pria yang selalu membelanya kini menyuruhnya mencari laki-laki lain. "T-tidak, Pak..." Ratna menggeleng panik. Napasnya memburu cepat, tangannya yang bergetar hebat mencengkeram erat pegangan kursi rodanya. "Aku nggak mau, Pak! Mas Brata suamiku! Aku tidak mau pergi!" "Cukup, Ratna! Di mana harga dirimu?!" bentak Haryo, kali ini suaranya memecah keheningan, memantul di dinding marmer yang dingin. Tongkat kayunya menghantam lantai dengan keras, sementara telunjuknya menuding tajam ke arah Brata. "Dia lebih memilih memungut sampah daripada menjaga berlian. Laki-laki yang rela membuang kerajaannya demi seorang babu tidak p
Terakhir Diperbarui : 2026-08-06 Baca selengkapnya