Menjelang sore, mobil yang membawa Mira tiba di pelataran rumah mewah Brata. Gadis itu melangkah dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Alih-alih beristirahat di kamar utamanya yang mewah, langkah kaki gadis itu berbelok menyusuri pekarangan belakang, menuju gubuk reyot tempat nyonya besarnya dikurung. Di dalam gubuk yang pengap dan berbau apek itu, Ratna terbaring miring di atas ranjang kayu beralas tikar tipis. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya kusam, dan keangkuhannya telah terkikis oleh keputusasaan. Mendengar suara langkah mendekat, Ratna menoleh dengan susah payah. Di ambang pintu, berdirilah Mira. Kali ini, gadis itu membawa sebotol minyak kayu putih dan selembar selimut katun yang bersih. Namun, alih-alih melangkah masuk dengan santai, tubuh Mira terlihat bergetar. Gadis itu berdiri kaku di dekat pintu, memeluk selimut itu di dadanya dengan raut wajah yang memperlihatkan ketakutan luar biasa, sebuah akting trauma yang sangat sempurna. "M-maafkan saya, Nyonya..." bisi
Terakhir Diperbarui : 2026-08-10 Baca selengkapnya