"Lalu, apa Anda bisa membantu saya?" Seliza menatap lurus ke arah pria di hadapannya.Pak Albert mengernyitkan dahi. Dia tidak menyangka begitu banyak orang yang mengincar posisi ini. Sebenarnya sebelum jalur pendaftaran resmi dibuka, dia sudah mendapat bocoran informasi. Namun, karena saat itu tidak mengira Seliza akan tertarik, dia tidak memberi tahu lebih awal.Kini karena kuota sudah penuh, urusan ini memang menjadi agak sulit."Kak Albert, tolong bantu saya sekali ini saja. Saya benar-benar sangat ingin pergi!" mohon Seliza.Di depan umum, semua orang memanggil Albert dengan sebutan hormat Pak Albert, tapi karena sosoknya sebagai pemimpin yang bisa diandalkan dalam hati bawahannya, pada momen privat, mereka sering memanggilnya Kak Albert.Mendengar sebutan itu, kerutan di dahi Albert semakin dalam."Hei, dasar kamu ini gadis nakal ...."Saat matanya berbenturan dengan sorot mata Seliza yang tenang namun sarat tekad kuat, dia menghela napas panjang. "Aku rasa aku nggak bisa memban
Read more