ANMELDENSeperti kebanyakan wanita yang keras kepala dan baru kapok setelah menemui jalan buntu, Seliza juga pernah mencoba membuat pria seperti Harvey jatuh cinta kepadanya. Namun, pernikahan mereka selama tiga tahun tak ubahnya seperti orang asing. Saat Seliza diserang secara brutal dan nyawanya berada dalam bahaya, Harvey justru sedang menemani mantan kekasihnya. Seliza pun memilih melepaskan hubungan itu dengan hati yang hancur. Namun, siapa sangka, pria yang biasanya sombong itu justru terus membuntutinya bagai hantu yang tak mau pergi? Pria itu mendekat selangkah demi selangkah, mematahkan semua jalinan asmara baru Seliza, dan menutup semua jalan mundurnya. "Dulu kamu sendiri yang ngotot mau menikah denganku. Selama aku nggak menceraikanmu, jangan pernah berpikir kamu bisa meninggalkanku seumur hidupmu!" Seliza menatapnya dengan tatapan dingin. "Maaf, Tuan Harvey, Anda sudah saya eliminasi dari hidup saya. Kalau saya bilang cerai, ya kita harus cerai!"
Mehr anzeigenPak Toni belum juga kembali. Seliza berdiri di depan pintu ruang ganti untuk menunggu.Fabian berjalan dari ujung koridor membawa cangkir berisi minuman hangat, lalu menyodorkannya kepada Seliza. "Ini, susu hangat. Semalam kurang tidur, ‘kan? Wajahmu kelihatan kurang segar.""Terima kasih, Kak Fabian," ucap Seliza sembari menerima cangkir itu dengan kedua tangannya, merasa kagum atas kepekaan pria itu.Semalam dia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Trauma akibat pemukulan di masa lalu memperparah gangguan insomnianya. Kematian Jordi baru-baru ini hanya sedikit membantu kualitas tidurnya, bukan menyembuhkannya secara total.Di antara lingkaran sahabat dekat Harvey, Fabian dan Aris adalah orang-orang yang tumbuh bersama pria itu dan sering berkunjung ke Kediaman Utama. Namun, berbeda dengan Aris yang gemar bergosip dan berisik, interaksi Seliza dengan Fabian sejak dulu terhitung paling minim.Karena tidak tahu harus mengobrolkan apa, Seliza memilih menunduk dan meminum susunya.Tib
Seliza menekan kuat rasa perih di hatinya, lalu menarik napas dalam-dalam.Dia sudah memutuskan untuk bercerai dari Harvey, jadi dia tidak boleh terjebak dalam emosi yang menyiksa diri seperti ini lagi. Setelah mereka bercerai nanti, kemesraan Harvey dan Gisela pasti akan jauh lebih dari sekadar ini.Memikirkan hal itu, Seliza memaksa dirinya memalingkan wajah. Dia sedikit menggeser tubuhnya, sengaja menghalangi pandangan Nyonya Desi.Kondisi Nyonya Desi sedang tidak sehat. Jika beliau melihat Harvey bersama Gisela, beliau pasti akan mengamuk dan memperburuk kesehatannya."Nenek, setelah semua pemeriksaan selesai, aku akan mengajak Nenek makan enak. Pasti bisa membuat nafsu makan Nenek kembali."Nyonya Desi tidak tahu apa-apa. Beliau tersenyum lebar dan menggenggam balik tangan Seliza. "Oke! Kamu menemaniku saja sudah bikin suasana hatiku sangat baik. Rasanya sekarang aku bahkan bisa lompat tinggi!"Mendengar istilah "melompat tinggi" keluar dari mulut wanita lansia itu, Seliza tidak
"Sudah diperiksa dokter keluarga. Kata beliau, Nyonya Desi hanya lemas dan kurang nafsu makan, tidak ada masalah serius."Namun, Seliza tidak bisa tenang begitu saja.Tahun lalu saat usia kehamilannya sudah tua, dia juga merasakan gejala yang persis seperti ini. Tubuhnya lemas, lesu, dan nafsu makannya turun drastis. Saat itu dia mengira lambungnya tertekan oleh ukuran janin yang membesar.Namun tidak sampai setengah bulan kemudian, jantung janinnya mendadak berhenti dan dia harus menjalani induksi persalinan dini.Meski tim dokter terbaik tidak bisa menemukan penyebab utamanya, tragedi itu menyisakan trauma mendalam yang sulit hilang dari lubuk hatinya. Pengalaman pahit itulah yang membuat Seliza langsung waspada begitu mendengar gejala yang dialami Nyonya Desi.Begitu masuk ke kamar, dia melihat Nyonya Desi sedang bersandar di kursi malas. Kakinya ditutupi selimut tebal dan sebuah kacamata baca bertengger di hidungnya. Tangannya tengah membalik-balik halaman sebuah album foto tua.M
Saat Seliza terbangun, hari sudah terang di luar.Begitu hendak duduk, kepalanya mendadak pening luar biasa. Dia terpaksa menekan dahinya erat-erat dan kembali terempas ke ranjang.Jika klub tempatnya minum semalam bukan milik Aris, dia pasti akan mengira telah meminum alkohol palsu.Namun, bagaimana bisa dia terbangun di kamarnya sendiri di Kediaman Yosari?Seingatnya, setelah mabuk semalam, Winda memapahnya ke toilet.Seliza memijat pelipisnya, mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Namun, selain Winda, memori di kepalanya hanya menampilkan potongan-potongan gambar yang kabur tentang kehadiran Harvey.Mengenai apa yang mereka lakukan atau katakan, dia sama sekali tidak ingat.Seliza refleks memeriksa kondisi tubuhnya. Tidak ada yang aneh, dan pakaian yang dia kenakan masih sama dengan pakaian kemarin.Dia berbaring diam sambil mengosongkan pikiran. Setelah beberapa saat, dia menjilat bibirnya yang kering lalu meraba kasur untuk mencari ponselnya.Saat melihat layar, waktu sudah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.