Pak Harvey, Kamu Sudah Dicampakkan!

Pak Harvey, Kamu Sudah Dicampakkan!

Von:  Nirmala AnggurGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
50Kapitel
12Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Salah Paham

Membalikkan Keadaan

Bos / CEO

Seperti kebanyakan wanita yang keras kepala dan baru kapok setelah menemui jalan buntu, Seliza juga pernah mencoba membuat pria seperti Harvey jatuh cinta kepadanya. Namun, pernikahan mereka selama tiga tahun tak ubahnya seperti orang asing. Saat Seliza diserang secara brutal dan nyawanya berada dalam bahaya, Harvey justru sedang menemani mantan kekasihnya. Seliza pun memilih melepaskan hubungan itu dengan hati yang hancur. Namun, siapa sangka, pria yang biasanya sombong itu justru terus membuntutinya bagai hantu yang tak mau pergi? Pria itu mendekat selangkah demi selangkah, mematahkan semua jalinan asmara baru Seliza, dan menutup semua jalan mundurnya. "Dulu kamu sendiri yang ngotot mau menikah denganku. Selama aku nggak menceraikanmu, jangan pernah berpikir kamu bisa meninggalkanku seumur hidupmu!" Seliza menatapnya dengan tatapan dingin. "Maaf, Tuan Harvey, Anda sudah saya eliminasi dari hidup saya. Kalau saya bilang cerai, ya kita harus cerai!"

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1

Malam sudah sangat larut ketika Seliza Virgio keluar dari kantor polisi.

Di luar, hujan sedang turun.

Para pejalan kaki sesekali mencuri pandang ke arah wanita dengan wajah penuh lebam keunguan, rambut acak-acakan, dan berjalan pincang itu.

Namun, Seliza sama sekali tidak memedulikan bisikan dan tatapan sinis mereka.

Sambil menyeret langkahnya yang terasa berat, dia menunduk, menatap kosong ke arah ponsel retak di genggamannya.

Dengan jari-jari yang dipenuhi bekas luka darah, dia gemetar menyentuh layar, mengetik dua belas digit nomor telepon.

Tut ....

Tut ....

Persis seperti panggilan darurat yang dia lakukan dengan panik saat dipukuli tadi, panggilan itu tidak dijawab.

Setetes air hujan menempel di bulu matanya. Begitu dia mengedipkan mata, air yang dingin itu masuk ke matanya.

"Heh." Seliza menyunggingkan senyum getir, menertawakan dirinya sendiri.

Benar-benar menyedihkan.

Tepat saat tangannya terkulai lemas karena pasrah, pada detik terakhir, telepon itu tersambung.

"Ada apa?" Suara berat dan dingin seorang pria terdengar dari seberang telepon.

Tangan Seliza yang mencengkeram ponsel seketika kaku. Gurat terkejut melintas di wajahnya. "Harvey ...."

"Pak Harvey, Nona Gisela sedang mencari Anda."

Sebelum kata-kata Seliza sempat terucap, suara asisten Harvey terdengar dari ujung telepon. Setelah itu, pria bernama Harvey itu berkata datar, "Kututup dulu."

Kalimat yang belum selesai itu sepenuhnya terputus oleh nada sibuk dari ponselnya.

Di sudut jalan yang sepi, di bawah tiang lampu jalan yang menjulang tinggi, butiran air jatuh berguguran di ujung rambut Seliza.

Tubuhnya yang kurus tampak bergetar pelan.

Tiba-tiba, sebuah mantel hangat disampirkan di bahunya.

Seliza agak tertegun. Saat mendongak, ternyata orang yang datang adalah Pemimpin Redaksi kantornya, Albert Herdi.

Pria itu memandangnya dari atas ke bawah dengan tatapan berat penuh amarah. "Sebenarnya siapa yang memukulmu sampai begini?"

Seliza mengembuskan napas yang membentuk kepulan uap, lalu menggelengkan kepalanya.

"Saat mereka memukul saya, saya sempat menarik beberapa helai rambut mereka. Di sela kuku-kuku saya juga ada potongan kulit mereka. Begitu DNA mereka terdeteksi, polisi akan segera menangkap pelakunya."

Pria itu tertegun sejenak. Dipukuli sampai separah ini, tetapi masih bisa menghadapinya dengan tenang dan melakukan hal sejauh itu?

Seliza ini memang pantas menjadi orang yang paling dia kagumi.

"Kasus ini pasti akan kita usut sampai tuntas. Sudah larut malam, ayo, kuantar kamu pulang."

Daerah sekitar sini memang sangat sulit untuk mencari taksi. Seliza memaksakan seulas senyum tipis lalu masuk ke dalam mobil pria itu. "Pak Albert, maaf, jadi merepotkan Anda."

"Repot apanya? Kamu ini anak buahku. Kamu sudah dipukuli orang, mana mungkin aku tinggal diam? Lagi pula, malam ini semua orang sedang pergi bertugas, cuma aku yang ada di kantor."

Pria itu memutar kemudi dan melanjutkan, "Mantan pacar Harvey sudah pulang. Kudengar, Harvey sendiri yang menjemputnya di bandara. Semua jurnalis sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan berita eksklusif ini."

Mata Seliza yang dipenuhi urat merah seketika menegang.

Otaknya terasa berdengung hebat.

Ternyata, saat dia diseret ke dalam gang, dipukuli dan ditendang habis-habisan, lalu menelepon Harvey untuk meminta pertolongan ... pria itu sedang menemani wanita lain.

Pak Albert jelas tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah Seliza yang memburuk, pria itu terus saja mengoceh sendiri.

Seliza menunduk, jari-jarinya yang bernoda darah mencengkeram erat punggung tangannya yang sudah babak belur.

Tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa dia adalah istri sah Harvey Gantara.

...

Seliza tidak membiarkan Pak Albert mengantarnya sampai ke depan pintu rumah. Dia minta diturunkan di sebuah kompleks perumahan terdekat, lalu melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju Kediaman Yosari.

Sesampainya di rumah, saat Seliza sedang mengganti sepatu di ruang tamu, pelayan rumah tangga yang mendengar suara keributan keluar. Dia langsung tersentak kaget begitu melihat kondisi Seliza dan bergegas menghampirinya.

"Nyonya, apa yang terjadi? Kenapa Anda bisa jadi seperti ini?"

Wanita itu maju untuk memapah Seliza. Namun, saat tidak sengaja menyentuh luka di lengannya, Seliza sama sekali tidak merespons. Seluruh tubuhnya tampak mati rasa, dan matanya kehilangan binar kehidupan.

"Aku dipukuli orang saat melakukan investigasi rahasia."

Dia menjawab dengan sangat santai, tetapi pelayan itu mendengarnya dengan jantung yang berdebar kencang karena takut.

Dia sudah tahu sejak lama bahwa pekerjaan sebagai jurnalis berita sosial itu berbahaya. Namun, dia tidak menyangka akan semengerikan ini.

Sepertinya, keputusan Nyonya Desi, neneknya Harvey, dulu yang memintanya keluar dari pekerjaan ini memang benar.

Melihat tatapan Seliza yang tertuju pada rak sepatu, pelayan itu tidak berani menatap wajahnya. Ekspresinya tampak menyembunyikan sesuatu. "Pak Harvey ... belum pulang. Saya dengar Nona Gisela sudah kembali."

Seliza menunduk. Beberapa helai rambutnya yang berantakan menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan emosi di matanya. Namun, pelayan itu bisa merasakan kesedihan yang mendalam darinya.

"Mungkin saja ...."

Pelayan itu berniat menjelaskan sesuatu, tetapi gerakan tangan Seliza langsung memotong kalimatnya. "Aku mau ke atas untuk mandi. Tolong bawakan kotak obat ke kamarku."

Melihat langkah kaki Seliza yang limbung saat menaiki tangga, pelayan itu menghela napas panjang tanpa suara. Namun, dia tetap menuruti perintah Seliza untuk mengambil kotak obat.

Saat melewati kamar tidur utama, dia sempat melirik ke dalam. Benar saja, Seliza tidak ada di sana.

Wanita itu justru masuk ke kamar yang berada tepat di sebelah kamar utama.

Siapa yang menyangka jika Nyonya dan Pak Harvey yang sudah menikah selama tiga tahun, ternyata masih tidur di kamar terpisah?

Uap air yang hangat memenuhi kamar mandi.

Menatap pantulan dirinya di cermin yang dipenuhi memar keunguan yang tampak mengerikan, bibir Seliza gemetar.

Dengan jari yang kaku dan kejang, dia merenggut paksa pakaiannya hingga robek, lalu melemparkannya ke tempat sampah.

Seolah kehabisan seluruh tenaganya, tubuhnya merosot dan terduduk di lantai.

Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara tangisan lirih dari dalam kamar mandi. Namun, saat pelayan mencoba mendengarkan lebih saksama, yang terdengar hanyalah gemercik air yang mengalir deras.

Usai mandi, Seliza menolak bantuan pelayan untuk mengobatinya. Dia duduk di sofa, mengoleskan obat seadanya ke atas luka-lukanya, lalu langsung merebahkan diri di tempat tidur.

Begitu memejamkan mata, bayangan saat dia dipukuli dan suara tawa mengerikan dari para pria itu langsung terlintas di benaknya.

Tulang-tulangnya terasa linu dan sakit.

Seliza membalikkan badan, membuka laci meja nakas, lalu meraba bagian terdalam untuk mengambil sebotol obat. Dia membuka tutup botol obat, menuangkan sebutir obat ke dalam mulut, lalu menelannya tanpa bantuan air minum.

Berkat bantuan obat tidur, Seliza bisa segera terlelap.

Hanya saja, saat tidur, alisnya masih bertaut rapat, dahinya dibanjiri keringat dingin, dan jari-jarinya yang mencengkeram ujung selimut tampak memutih sekaligus gemetar tanpa henti.

"Tolong aku!"

Wajah Seliza yang terjebak dalam mimpi buruk itu, tampak pucat pasi. Tubuhnya yang kurus terus bergetar, dan air mata mengalir dari matanya yang terpejam rapat.

Namun, kamar yang gelap dan kosong itu sama sekali tidak memberikan jawaban.

...

Seliza baru terbangun keesokan harinya saat hari sudah menjelang malam.

Memar di wajahnya sudah jauh lebih pudar, tetapi tubuhnya masih terasa sangat sakit. Saat beranjak dari tempat tidur, dia bahkan hampir jatuh ke lantai.

Untung saja, hari itu ada pejalan kaki baik hati yang lewat dan berteriak akan melapor ke polisi, barulah mereka berhenti memukulnya. Jika tidak, orang-orang itu tidak akan menghentikan aksi brutal mereka. Seliza mungkin saat ini sudah pergi ke alam baka untuk menyusul mendiang orang tuanya.

Pak Albert memberi Seliza cuti beberapa hari agar dia bisa beristirahat total di rumah.

Saat turun ke lantai bawah, dia melewati kamar tidur utama dan sempat berdiri di depan pintunya untuk mengintip.

Pintu kamar itu masih terbuka lebar, persis seperti semalam.

Tanpa perlu menebak pun dia tahu kalau Harvey tidak pulang kemarin.

Pelayan telah merebus telur dan mengupas kulitnya. Seliza duduk di sofa, mengompres wajahnya dengan telur hangat untuk menghilangkan memar, sembari membuka ponsel untuk membaca berita.

Seperti yang diduga dari penguasa Keluarga Gantara, berita utama hari itu masih menjadi topik hangat hingga saat ini.

Dalam foto itu, siluet punggung pria itu tampak tinggi dan tegap, berdiri kokoh bak pohon pinus di kegelapan malam.

Meskipun hanya berupa foto belakang, aura kuat yang terpancar dari tubuhnya tetap tidak bisa diabaikan oleh siapa pun.

Sementara itu, wanita yang berada di kursi roda, yang sedang didorongnya hanya memperlihatkan siluet punggung bagian atasnya saja.

Gisela Ayumi.

Seliza menutup berita itu dalam diam, tetapi tanpa sadar dia meremukkan telur di tangannya.

Menundukkan kepala melihat kuning telur yang berserakan di tubuhnya, dia mengernyitkan dahi, dan matanya perlahan mulai memerah.

Benar-benar tidak berguna.

Sudah tiga tahun berlalu, apakah dia masih belum bisa melihat dengan jelas di mana hati Harvey berada?

Seliza kemudian bangkit kembali ke kamar untuk berganti pakaian, lalu pergi ke ruang kerja untuk mencari beberapa buku untuk mengalihkan perhatiannya.

Ruang kerja Harvey sangat bersih dan rapi tanpa dekorasi yang berlebihan, sangat kontras dengan ruang kerjanya sendiri yang dipenuhi tumpukan blind box dan mainan kekinian.

Laci meja kerja pria itu tampaknya lupa ditutup. Salah satu jendela ruangan itu setengah terbuka, membuat angin meniup dokumen-dokumen di dalam laci hingga berisik.

Tiba-tiba, selembar kertas terbang dan jatuh ke lantai.

Seliza berjalan mendekat untuk memungut kertas tersebut. Namun, tepat saat dia hendak memasukkan kertas itu kembali ke dalam laci, pandangannya seketika terkunci dan tubuhnya menegang begitu melihat dokumen yang ada di sana.

Yang terpampang nyata di hadapannya saat ini adalah sebuah Surat Perjanjian Perceraian.

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
50 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status