Sisa-sisa gairah yang tadi memuncak perlahan berubah menjadi pertarungan batin yang hebat di dalam dada Rendra. Ia duduk kembali di kursi kerjanya, kedua telapak tangannya menekan meja hingga buku jarinya memutih, matanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota Bekasi yang mulai riuh. Di satu sisi, bayangan sosok Casandra masih terngiang jelas di kepalanya—keberaniannya, caranya memeluk, membelai, dan memuaskan setiap keinginan yang dulu pernah mereka bagi bersama di Amerika. Tak bisa ia pungkiri, ada perbandingan yang tak sengaja muncul di benaknya. Bersama Casandra, segalanya terasa bebas, liar, tanpa ragu sedikit pun. Wanita itu tahu persis apa yang diinginkannya, dan tak pernah segan untuk mengejarnya. Sedangkan dengan Rina, semuanya berjalan lebih lembut, penuh kehati-hatian, kadang masih diselimuti rasa takut dan malu. Rina adalah wanita yang tulus, polos, dan penuh kasih sayang—namun dalam hal keintiman, ia masih membutuhkan waktu untuk benar-
閱讀更多