Berita penerimaan lamaran Rina oleh Rendra menyebar perlahan, namun tidak semua orang menyambutnya dengan sukacita. Bagi Rina, hari itu adalah awal babak baru kehidupan, namun bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Sementara Rendra dan Bu Widya sibuk mempersiapkan segalanya dengan penuh kebahagiaan, dari arah yang tak terduga, gangguan mulai datang kembali—seolah tak ingin membiarkan Rina menikmati ketenangan yang baru saja ia temukan. Pagi itu, Rina sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa desain gaun pengantin yang akan ia buat untuk dirinya sendiri. Ujung jarinya menyentuh kertas dengan hati-hati, menggambar pola yang melambangkan ketabahan dan kebangkitan. Pintu ruangan terbuka tiba-tiba dengan kasar, dan mantan ibu mertuanya—muncul dengan wajah merah padam, diikuti Dimas yang berjalan enggan di belakangnya. “Jadi benar apa yang kudengar? Kau berani-beraninya mau menikah lagi dengan anak orang kaya lagi, hah?” seru nya tanpa sopan santun, berdiri tegak di tengah ruan
Read more