Share

Bab 68

Penulis: Bilkis29
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 08:11:02

Matahari pagi itu menyelinap lembut lewat jendela kaca besar kamar utama rumah mewah milik Dimas dan Sari. Dimas sudah bangun lebih awal, sibuk merapikan berkas-berkas kerjanya di meja belajar, sesekali melirik ke arah tempat tidur tempat istrinya masih terbaring dengan tenang. Sari tampak begitu cantik meski baru bangun tidur, perutnya yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan terlihat jelas menonjol di balik selimut lembut. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Dimas setiap kali ia memand
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 71

    Rina hanya menghela napas panjang, menatap punggung Sari yang menghilang di ujung lorong dengan langkah tergesa-gesa. Ia mengusap dadanya yang terasa sedikit sesak, lalu menggeleng pelan. Bukan urusanku, batinnya tegar. Biarkan semuanya berjalan sesuai takdirnya. Biarkan Dimas, mantan suami yang dulu begitu dzalim menyakiti hatiku, menerima balasan setimpal dari setiap tetes air mata yang pernah ia tumpahkan padaku dulu. Ia tidak membenci, tidak pula ingin membalas dendam. Rina hanya pasrah, percaya bahwa keadilan Tuhan selalu datang pada waktunya, tanpa perlu ia menuntutnya sendiri. Dengan langkah tenang, ia kembali menyusuri lorong menuju ruang utama, menyisakan rahasia besar itu tersimpan rapat di dalam hatinya. Suasana di dalam ballroom kini semakin meriah dan gemuruh. Musik yang tadinya mengalun lembut kini beralih menjadi irama yang lebih megah, disambut tepuk tangan meriah dari ratusan tamu undangan. Pembawa acara berdiri tegak di tengah panggung, senyum lebar mengembang di

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 70

    Aula besar hotel bintang lima itu bergemuruh dengan suara percakapan, tawa, dan dentingan gelas kristal yang saling berbenturan. Lampu gantung yang megah memancarkan cahaya keemasan, menyinari deretan pengusaha sukses yang berkumpul dalam acara pertemuan tahunan gabungan para pelaku usaha. Di sudut ruangan yang paling mencolok, Dimas tersenyum bangga sambil menggandeng lembut tangan Sari. Tangannya yang besar sesekali mengelus perut istrinya yang mulai membuncit, membuat siapa saja yang melihatnya pasti mengira mereka adalah pasangan paling bahagia di malam itu. “Lihatlah mereka, Dimas benar-benar beruntung sekali. Mendapatkan istri cantik, kaya raya, dan sebentar lagi akan memiliki keturunan,” bisik salah satu tamu kepada rekannya. Dimas mendengarnya dan dadanya terasa begitu penuh. Ia sama sekali tidak tahu bahwa jauh di dalam hati Sari, ada rasa cemas yang terus menghantui setiap kali tangan Dimas menyentuh perutnya. Ia teringat kembali hari itu, saat hasil pemeriksaan dokter

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 69

    Sari duduk sendirian di kursi goyang empuk di sudut kamar utama, tangannya lembut mengusap perutnya yang kini sudah membuncit cantik. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya, namun tidak mampu menghapus keresahan yang terus membayangi benaknya. Ia kembali menelusuri kenangan yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di dalam hati, kenangan yang menjadi awal mula segala kebohongan besar yang kini ia pikul sendirian. Saat itu belum genap dua bulan mereka menikah. Dimas tampak begitu bahagia, penuh harap ingin segera memiliki keturunan. Setiap malam ia selalu berbicara tentang masa depan, tentang anak-anak yang akan berlari mengelilingi rumah mereka, tentang bagaimana ia akan mendidik dan menyayangi mereka sepenuh hati. Sari hanya bisa tersenyum mendengarnya, meski dalam hati ada rasa cemas yang mulai merayap. Suatu hari, mereka sepakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan. Hasilnya datang begitu menghantam seperti petir di siang bolong. Dokter berkata dengan nada lembut namun te

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 68

    Matahari pagi itu menyelinap lembut lewat jendela kaca besar kamar utama rumah mewah milik Dimas dan Sari. Dimas sudah bangun lebih awal, sibuk merapikan berkas-berkas kerjanya di meja belajar, sesekali melirik ke arah tempat tidur tempat istrinya masih terbaring dengan tenang. Sari tampak begitu cantik meski baru bangun tidur, perutnya yang kini sudah menginjak usia tujuh bulan terlihat jelas menonjol di balik selimut lembut. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Dimas setiap kali ia memandang perut itu. Baginya, janin yang ada di sana adalah bukti cinta abadi mereka, anugerah terindah yang mengubah hidupnya menjadi jauh lebih sempurna. "Sayang, sudah bangun?" sapa Dimas lembut saat melihat Sari mulai mengerjap pelan. Ia segera berjalan mendekat, duduk di tepi kasur lalu mengusap lembut rambut panjang Sari. "Ibu hamil harus bangun pagi supaya sehat ya. Aku sudah minta pembantu menyiapkan sarapan kesukaanmu." Sari tersenyum tipis, namun ada kilat kegelisahan yang cepat sekali h

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 67

    Suasana di ruang rawat inap rumah sakit terasa sunyi namun penuh kekhawatiran. Rina masih terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya pucat pasi, selang infus menempel di punggung tangannya. Sesekali ia meremas perut bagian bawah dengan wajah meringis menahan nyeri kram yang datang silih berganti. Di sampingnya Rendra duduk terpaku, tangannya menggenggam lembut tangan Rina yang terasa dingin. Air mata menetes tanpa suara dari sudut matanya—rasa bersalah begitu menghimpit dadanya, seolah ia adalah pelaku utama yang menghancurkan kebahagiaan istrinya sendiri. "Maafkan aku, Rin... Maafkan aku..." bisiknya berulang-ulang, menempelkan punggung tangan Rina ke pipinya yang basah. "Aku bodoh sekali... Aku membiarkan masa lalu merusak segalanya... Tolong bertahanlah, kamu dan anak kita..." Bu Widya berdiri tak jauh dari sana, punggungnya tegak namun matanya memancarkan kemarahan yang tak terlukiskan. Wanita yang dikenal tegas dan berwibawa itu kini menggenggam erat ponsel yang tadi ditemukan

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 66

    Pagi itu sinar matahari menyelinap lembut lewat jendela kaca besar ruang kerja Rina di butik miliknya. Ruangan itu beraroma bunga melati segar dan tumpukan kain-kain sutra berwarna lembut yang baru saja datang dari pemasok. Rina duduk di balik meja kerjanya yang rapi, jari-jarinya yang lentik sedang menyusun sketsa gaun pesta untuk klien penting minggu depan. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali tangannya mengelus perut bagian bawah yang masih rata. Ia belum memberitahu siapa pun—bahkan pada Rendra maupun Bu Widya—bahkan dua hari yang lalu tes kehamilan menunjukkan dua garis merah jelas. Kandungannya masih sangat muda, baru menginjak usia empat minggu, tapi rasa bahagia itu sudah memenuhi setiap sudut hatinya. Belum sempat ia melamun lebih jauh, ponsel di sampingnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, disertai sebuah berkas video berukuran cukup besar. Rina mengernyitkan dahi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa yang mengirim pesan tanpa menyertakan na

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 7

    Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 6

    Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 5

    Rina turun dari motor, melepas helm, dan melangkah masuk ke rumah. Langkah kakinya terhenti sejenak begitu masuk ke ruang tengah. Ia melihat lantai mengkilap bersih, tidak ada debu sedikit pun. Baju-baju yang biasanya menumpuk sudah tergantung rapi di jemuran. Semua barang tertata dengan bai

  • Kejamnya Mulut Suamiku    Bab 4

    Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status