Sinar matahari pagi menyelinap perlahan lewat celah gorden jendela kamar yang luas, menyentuh permukaan seprai sutra berwarna krem yang masih terasa hangat. Rina terbaring miring, kepalanya bersandar lembut di lengan Rendra yang terulur melindunginya. Matanya menatap kosong ke arah dinding, namun sudut bibirnya tak pernah lepas dari senyum tipis yang terasa begitu dalam. Seluruh tubuhnya terasa lemas, seolah semua tenaga tersedot habis semalaman—bukan lelah yang menyiksa, melainkan kelelahan yang manis, yang lahir dari kebersamaan yang hangat, penuh gairah, dan di atas segalanya, penuh rasa hormat. Pikirannya tak sengaja melayang kembali ke masa lalu, membandingkan apa yang ia rasakan sekarang dengan hari-hari kelam bersama Dimas. Dulu, setiap kali mereka berbagi ranjang, rasanya seperti menjalankan kewajiban yang berat. Dimas selalu meminta apa yang ia inginkan tanpa pernah bertanya apakah Rina siap, apakah Rina merasa nyaman, atau bahkan apakah Rina menginginkannya juga. Bagi
Read more