Angin sore di Bekasi terasa sejuk menyapa wajah Rina saat ia melangkah masuk ke halaman rumahnya. Rumah yang selama lima tahun ini ia anggap sebagai tempat pulang paling aman, kini terasa asing seperti rumah orang lain. Tapi tidak ada lagi sesak di dadanya, tidak ada lagi air mata yang menumpuk di pelupuk mata. Beban yang memikul pundaknya bertahun-tahun akhirnya terangkat, seberat apapun kenyataannya. Ia membuka pintu depan perlahan. Dimas sudah duduk di ruang tengah, kepala menunduk dalam, kedua tangannya meremas erat lutut. Baju yang dikenakannya masih sama seperti saat mereka bertemu tadi pagi—kini kusut, berantakan, dan ada noda basah di lengan kiri, bekas air hujan yang tiba-tiba turun siang tadi. Ia tidak berani menatap Rina, bahkan saat suara langkah kaki Rina terdengar jelas di lantai keramik. "Kau sudah pulang," ucap Dimas pelan, suaranya pecah dan serak. Rina mengangguk, meletakkan tas kecilnya di atas meja tamu. Ia berdiri tegak, pandangannya tenang dan tajam, tidak
Read more