Napas Iruna masih tersengal, menyisakan jejak hembusan panas di atas permukaan lantai marmer yang dingin. Air mata yang sempat menetes kini mengering, meninggalkan bekas lengket di pipinya yang pucat.Beberapa menit berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hingga perlahan-lahan, erangan histeris di dalam benaknya mulai surut—berganti dengan rasa dingin yang membeku.Iruna menegakkan tubuhnya. Gerakannya lambat, kaku, namun teratur. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu merapikan tatanan rambut hitamnya yang sempat berantakan. Jemarinya yang tadi gemetar hebat kini terkepal mantap.Ia berdiri, melangkah menuju cermin besar di lorong rumahnya.Di balik pantulan kaca, Iruna menatap bayangannya sendiri. Matanya yang sembab kini tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan penyesalan atas kelemahannya sendiri. Menangis dan meratapi nasib tidak akan membawa Arlan maupun Kirara ke dalam pelukannya.Bagus, Arlan... bagus, batin Iruna, bibirnya perlahan melengkungkan s
Last Updated : 2026-09-07 Read more