Arkan berdiri mematung di balik kemudi mobilnya yang terparkir di pelataran parkir Markas Besar. Jari-jarinya mencengkeram kuat stir mobil, hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, berat dan patah-patah. Pikirannya benar-benar kacau, bagaikan benang kusut yang tak tahu di mana ujungnya. Di satu sisi, isak tangis Maria yang histeris karena kematian Milo—satu-satunya kenangan hidup dari masa lalu mereka—terus terngiang, mengetuk pintu nurani dan rasa ibanya. Di sisi lain, suara dingin dan penuh penekanan dari Karina, istri sahnya yang baru saja ia hancurkan harapannya, bergema bagaikan peringatan terakhir."Brengsek!" umpat Arkan pelan, memukul stir mobil dengan frustrasi.Ia menyalakan mesin mobil. Raungan mesin sport utility vehicle (SUV) hitam miliknya memecah keheningan malam yang mulai merayap. Arkan melajukan mobilnya keluar dari gerbang markas, membelah jalanan ibu kota yang masih padat. Dalam radius beberapa kilometer, jalanan itu bercabang: satu menuju apartemen mewa
Última actualización : 2026-08-19 Leer más