"Kau masih berniat tidur sampai matahari tenggelam di ufuk barat, Nyonya Arkan?"Suara bariton yang berat itu menggetarkan gendang telinga Karina. Dengan perlahan, wanita itu membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Silau cahaya matahari pagi langsung menyeruak masuk melalui celah gorden jendela kamar tidur utama rumah dinas kepolisian. Di ambang pintu, berdiri sosok Arkan dengan balutan kemeja dinas rapi tanpa cacat, sementara tangan kanannya memegang sebuah mug putih mengepulkan uap panas.Karina mengerjap beberapa kali, menarik selimut tebal menutupi dagunya sambil merengut sebal. "Jam berapa ini memangnya? Ini masih pagi, Mas Arkan. Kepalaku masih pusing karena semalam aku tidak bisa tidur nyenyak memikirkan teror itu."Arkan melangkah masuk mendekati tempat tidur, menatap arloji melingkar di pergelangan tangan kirinya dengan ekspresi datar namun menyiratkan ketegasan seorang perwira."Pukul sembilan lewat seperempat, Karina. Di kamus hidupku, jam sembilan pagi itu
Terakhir Diperbarui : 2026-08-01 Baca selengkapnya