FAZER LOGINSetelah resmi bercerai dari pria yang menghancurkan hidupnya, Karina tidak menyangka kebebasannya justru menjadi awal dari teror yang lebih mematikan. Demi bertahan hidup, ia membuat kesepakatan berbahaya dengan Arkan Pradipta. Bagi Karina, pria itu adalah perisai. Bagi Arkan, wanita itu adalah syarat untuk promosi jenderal bintang satunya. Pernikahan ini seharusnya hanya sandiwara untuk memenuhi syarat karier dan menjauhkan sang mantan suami. Namun, ketika situasi memanas menuntut mereka untuk terus bersandiwara. "Kita hanya perlu bertahan satu tahun. Setelah semuanya reda, jika kamu ingin berpisah, saya tidak akan menahanmu. Namun sekarang, mendesahlah"
Ver mais"Putusan cerai memang sudah keluar. Tapi kamu masih milikku, Karina.”
Di ujung koridor pengadilan yang mulai sepi, Karina gemetar setengah mati. Sementara di hadapannya Rangga, mantan suaminya berdiri dengan kedua tangan di saku celana.
Pria berkacamata itu, wajahnya tampak tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja resmi kehilangan istrinya.
Senyum tipis terukir di bibir pria itu. Senyum yang dulu membuat Karina jatuh cinta dan senyum itu pula yang kini justru membuat bulu kuduknya meremang.
"Semuanya sudah selesai." sahutnya sambil memeluk berkas putusan sampai jarinya memutih. Ia takut setengah mati.
"Selesai menurut siapa?" Rangga tertawa kecil.
"Menurut hukum."
"Lalu menurutku?" Rangga begitu arogan.
Karina menggigit bibir. Tidak ada gunanya berdebat. Ia sudah terlalu sering melakukannya selama tiga tahun pernikahan mereka. Hingga akhirnya Karina memberanikan diri menghubungi pengacara untuk membantu mengurus perceraiannya.
Tiga tahun yang awalnya dipenuhi janji manis, lalu berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Awalnya hanya larangan-larangan kecil. Jangan berteman dengan pria lain, tidak boleh pulang terlambat, di larang memakai pakaian tertentu. Semua dibungkus atas nama cinta. Karina semula sempat menganggap hal itu sebagai sesuatu yang romantis dan membuatnya merasa begitu diinginkan.
Sampai akhirnya Karina menyadari bahwa yang disebut Rangga sebagai cinta hanyalah cara lain untuk mengendalikan hidupnya. Bentakan dan makian muncul ketika ia mulai melawan. Dan ketika ia mencoba pergi, tangan Rangga mulai berbicara lebih dulu daripada mulutnya.
Karina masih bisa mengingat malam ketika pipinya ditampar hanya karena menjawab panggilan telepon dari rekan kantor laki-laki. Juga ludah yang terasa hangat dan kental mendarat di pipinya tepat di bawah pelipis matanya. Hangat dan sedikit amis.
Ia juga masih ingat bagaimana Rangga menangis dan memohon maaf keesokan harinya. Memohon sambil berlutut. Bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Namun semua itu hanya berlangsung beberapa minggu sebelum kekerasan berikutnya terjadi. siklus itu selalu sama, berulang hingga terasa memuakkan.
"Kamu bisa keluar dari ruang sidang itu sebagai mantan istriku," ujar pria itu pelan. "Tapi jangan pernah bermimpi bisa keluar dari hidupku."
Air mata panas mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasanya sangat putus asa. Ia dan Rangga sudah bercerai, namun pria itu masih gila.
Bersamaan dengan itu. Tatapan Karina tanpa sadar mengikuti pria berseragam yang melewatinya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Mungkin ia harus melapor dan meminta bantuan.
Karena jika tidak… Ia takut suatu hari nanti Rangga benar-benar akan melakukan sesuatu yang lebih buruk.
Seorang polisi bertubuh tinggi dengan seragam yang tampak rapi tanpa cela baru saja lewat. Pria itu memiliki rahang tegas dan sorot mata yang tajam.
Karina tidak membuang waktu. Kakinya melangkah cepat, menyusul pria berseragam yang baru saja melewati koridor itu. Napasnya memburu, paru-parunya seolah kekurangan oksigen saat bayangan tangan kasar Rangga yang mencekik lehernya kembali melintas di kepala.
Tangannya terulur, mencengkeram lengan seragam polisi itu dengan sisa keberanian yang ia punya. Ia tidak peduli betapa lancang tindakannya, atau bagaimana tatapan bingung pria tersebut nantinya.
"Pak, tolong," bisiknya, hampir tak terdengar namun sarat akan keputusasaan yang nyata.
Pria itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, rahang tegasnya mengeras saat menangkap kilat ketakutan di mata wanita yang tiba-tiba menahannya itu.
Namun saat wajah sang perwira berbalik sepenuhnya, jantung Karina mencelos seketika.
Tatapan mereka berbenturan. Manuk mata Arkan melebar sedetik, merekam jelas wajah pucat wanita yang dulu pernah menjadi bagian terindah sekaligus paling canggung dalam masa lalunya.
Sebelum pria itu sempat membuka mulut karena terkejut, Karina sudah menarik lengannya lebih erat, didorong rasa panik yang telanjur mendominasi
Pria itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, rahang tegasnya mengeras saat menangkap kilat ketakutan di mata wanita yang tiba-tiba menahannya itu.
Sebelum Pria itu sempat membuka mulut untuk bertanya, Karina sudah menarik lengannya lebih erat.
"Ini penggantimu," ucap Karina dengan suara yang dipaksakan datar, meski tangannya masih sedikit gemetar.
Ia berbalik, menatap Rangga yang kini membeku di tempatnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Rangga perlahan melepaskan tangannya dari saku celana.
Wajahnya yang tenang tadi kini perlahan memerah, urat-urat di lehernya tampak menegang karena menahan amarah yang tersembunyi.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Karina, terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa seolah sedang melemparkan umpan ke tengah lautan yang penuh hiu.
Arkan Pradipta, yang baru saja hendak melangkah, mematung kaku.
Punggungnya yang tegap itu tegang seketika, seragam polisi dengan pangkat yang disematkan di bahu tampak lebih berkilat di bawah lampu koridor yang temaram.
Otot di rahangnya mengeras secara kasatmata, menahan gejolak emosi yang mendadak berkecamuk saat mendengar klaim sepihak dari mantan kekasihnya itu.
Ia tidak menoleh, tapi Karina bisa melihat otot di rahangnya menegang secara kasatmata.
Rangga, yang tadinya menatap Karina dengan tatapan posesif yang memuakkan, seketika terpaku. Senyum angkuhnya luntur, digantikan oleh gurat kebingungan yang bercampur amarah.
Matanya menyipit, menatap punggung Arkan dari kepala hingga kaki, seolah sedang menimbang apakah pria di depannya ini nyata atau hanya halusinasi Karina.
"Penggantiku?" Rangga mengulang kata itu dengan nada merendahkan. Tawa sinisnya menggema di dinding koridor yang sepi.
"Baru cerai hitungan menit, dan kamu sudah punya pengganti secepat ini? Jangan bercanda, Karina."
Arkan akhirnya berbalik. Sepasang mata setajam elang itu menusuk tepat ke arah Rangga.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Arkan melangkah mendekat. Dia tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Karina, justru mempereratnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Arkan melangkah mendekat. Dia tidak melepaskan diri dari cengkeraman Karina, justru memanfaatkannya untuk mempererat jarak.
Jari-jari besarnya yang hangat menyentuh kulit Karina, menciptakan sengatan listrik yang aneh dan canggung di sekujur tubuh wanita itu.
Kenangan lama yang terkubur mendadak menyeruak.
"Ada masalah?"
Rangga terdiam. Nyali pria itu seolah menciut begitu melihat tatapan Arkan yang benar-benar dingin. Aura dominasi yang dipancarkan oleh pria itu jauh melampaui apa pun yang pernah Rangga miliki.
"Dia mantan istri saya," Rangga berusaha mempertahankan harga dirinya, suaranya kini bergetar kecil.
Arkan menatap Rangga sekali lagi, kali ini dengan sudut bibir yang terangkat tipis. Senyum itu bukan senyum keramahan, melainkan seringai pria yang sedang memegang kendali penuh atas situasi.
"Dan saya pasangannya yang sekarang," balas Arkan dengan penekanan di setiap suku kata.
Dia menarik pinggang Karina lebih dekat ke tubuhnya, membuat bahu mereka bersentuhan.
"Ada lagi yang ingin kamu katakan pada calon istri saya? Atau saya perlu mengajakmu ke ruang interogasi untuk mendiskusikan batasan privasi?"
Karina tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di titik ini. Mengenakan gaun putih untuk kedua kalinya. Dan kini… menikah dengan mantan kekasihnya yang dulu ia tinggalkan.Namun, takdir memiliki selera humor yang sangat kelam. Pernikahan ini bukan tentang cinta atau masa depan yang cerah, melainkan tentang bertahan hidup di tengah teror yang tidak kunjung usai.Biarlah orang berkata apa. Baginya, hanya keselamatan nyawanya yang paling utama. Pengajuan administrasi pernikahan mereka terasa seperti maraton yang melelahkan. Pria itu mengurus segala dokumen, memastikan semuanya selesai dalam waktu kurang dari satu bulan. Karina merasa seperti pion dalam permainan catur yang rumit. Dan Arkan perwira yang tidak menyukai ketidakpastian. Selama bulan itu, Karina tidak pernah melihat Arkan selama berhubungan di masa lalu. Seperti menunjukkan emosi yang tidak perlu.Satu-satunya cahaya di tengah kegelapan ini adalah Ibu Arkan. Karina sempat takut akan penolakan, namun wanita itu j
Seketika saja, raut wajah Rangga berubah dan Karina langsung mengenali suara itu. Pria itu berjalan keluar dari area parkir samping kantor polisi dengan langkah tenang. Seragamnya masih rapi. Di tangannya terdapat sebuah map berwarna cokelat yang tampaknya baru saja diambil dari dalam gedung. Wajahnya datar tapi tersenyum tiap kali ke arah Karina.Entah mengapa, Karina bahkan tidak menyadari dirinya menghembuskan napas lega. Seolah tanpa sadar, ia memang berharap pria itu masih berada di sekitar sini.Arkan berhenti di samping Karina. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat untuk membuat Rangga memahami posisi mereka. “Maaf ya sayang, aku gak jadi lembur ternyata.” ujarnya terkekeh sambil merangkul pinggul Karina lamat.Karina sedikit tertegun mendengar kata Sayang keluar dari mulut Arkan seolah tanpa ragu."Ada perlu dengan calon istri saya?”Tatapan tajam Arkan berpindah dari Karina menuju Rangga. Kalimat itu terdengar biasa. Namun membuat rahang Rangga mengeras.Istri saya.Calon
Pria itu memang mengenalinya. Namun ekspresinya tetap datar seperti biasa.“Silahkan duduk.”Karina segera duduk di kursi yang berada di depan meja pelayanan. Sementara itu, Arkan menarik kursi di seberangnya lalu membuka map kosong dan menyiapkan formulir laporan.“Mau lapor kendala apa, Karina?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa membuat tenggorokan Karina terasa sesak. Sudah lama ia menahan semuanya sendirian. Semua menjadi sebuah ketakutan besar yang mulai menggerogoti hidupnya. Karina menarik napas panjang. “Masih masih meneror, Pak.”Arkan mengangkat pandangan.“Namanya Rangga.” Karina Mengangguk.Kemudian, Karina mulai menceritakan semuanya. Ruangan itu beberapa kali hening. Selain suara Karina yang berusaha menceritakan semuanya dengan tegar, hanya ada suara pena Arkan yang bergerak di atas kertas. Tidak sekalipun pria itu memotong pembicaraannya. Arkan juga tidak sekalipun menunjukkan ekspresi meremehkan. Fokusnya hanya mendengar dan menganalisis. Seolah setiap
Rangga tak berkutik. Untuk beberapa detik, pria itu hanya berdiri mematung dengan rahang mengeras. Tatapannya berpindah dari wajah Karina, lalu menatap name tag di dada si Polisi, Arkan Pradipta. Seolah sedang menimbang apakah ia harus melanjutkan keributan atau menelan harga dirinya.Namun tatapan dingin Arkan membuat keberaniannya runtuh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rangga berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor pengadilan. Langkahnya cepat dan berat, lalu berlalu lalang pergi.Karina baru bisa mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan dengan kakinya yang sudah lemas.Ia bahkan tidak menyadari bahwa selama ini tangannya masih mencengkeram lengan Arkan dengan erat."M—maaf." Karina buru-buru melepaskan pegangannya. Ia mundur selangkah lalu menundukkan kepala."Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih sudah membantu saya."Arkan tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berdiri diam sambil menatapnya. Tatapan tajam itu membuat Karina semakin gugup. Karina bisa melihat


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.