Maria menatap lipatan kertas di tangan Arkan, lalu beralih menatap wajah pria itu yang masih terikat dalam kecamuk bisu. Ia menghembuskan napas pelan, mengusap helai rambutnya yang tertata rapi dengan gestur yang sangat Arkan kenali. Ada guratan penyesalan di matanya, namun juga kepasrahan pada situasi mereka saat ini."Arkan... aku sebenarnya ada urusan mendesak di lantai dua, ibuku sedang dirawat," ucap Maria dengan nada bersalah, suaranya pelan dan tertahan. Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan selembar kartu nama bertekstur tebal dengan cetakan tinta emas yang elegan, lalu mengulurkannya. "Aku tidak bisa bicara panjang lebar sekarang. Tapi tolong... hubungi aku nanti. Ada banyak hal yang ingin aku jelaskan."Arkan menatap kartu nama di hadapannya. Tangannya terasa begitu berat, namun secara refleks, jemarinya bergerak mengambil kartu tipis itu. Tekstur kertasnya yang halus terasa kontras dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan akibat latihan militer bertahun-tahun.
Última actualización : 2026-08-16 Leer más