Begitu masuk ke dalam klinik, petugas di meja resepsionis menatapku dengan mata menyipit tampak sedang berusaha mengenaliku. Detik berikutnya perempuan yang terlihat berumur sekitar tiga puluh itu tersentak pelan, lalu segera berdiri menghampiri, menghalangi jalanku dengan tangan terentang.“Maaf, Ibu tidak boleh masuk,” tegurnya tanpa basa-basi.Aku menatapnya sejenak, membaca sekilas nametag orang di hadapanku yang bernama ‘Nadia’.“Kenapa?” tanyaku singkat, sedikit mendongakkan dagu.“Karena Dokter Friska sedang tidak ada di tempat,” jawabnya tegas, wajah masamnya seakan mengira aku akan takut padanya.Aku melirik ke arah bangku di belakang petugas itu, setidaknya ada lima pasien yang duduk di sana sambil memegang nomor antrian, beberapa bahkan mengipasi diri mereka dengan map rekam medis.“Nggak ada di tempat?” kataku dengan nada mencibir. “Terus, siapa yang lagi periksa pasien-pasien ini?”Nadia gelagapan, matanya bergerak liar berusaha mencari alasan. “I-itu… sekarang ada Dokter
Last Updated : 2026-09-16 Read more