Share

94. Deep Talk

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-09-08 23:17:03

Tapi mau dipikirkan sekeras apa pun, aku tidak menemukan jawabannya. Kalimat itu terlalu ambigu.

Kenapa Bara harus terus belajar menembak? Rasa sakit apa yang dia maksud? Apa dia sedang berencana jadi mafia kayak di novel-novel?

Aku menepuk pipiku pelan, merutuki pikiran absurd yang terlintas.

“Harusnya aku lebih banyak baca novel genre misteri atau detektif, bukannya kecanduan novel erotis. Lihat, sekarang otakku jadi tumpul, kan?” Aku mendumel sendiri, tidak terima dengan kemampuan analisaku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
kali ini maaf min aku tim nafsu aku setuju kapan lgi dikasih cowok setampan ini yg dikirim buat mu Mia masa kamu menolak cwok seganteng dan se sexy bara ... buka mata Lo lebar² Mia sebentar lgi kamu jga bklan single sesekali Sabi lah tengok junior nya bara ...️ silaturahmi kenalan sama terumbu karang...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   99. Tujuan Selanjutnya

    Satu sudut bibirku tersungging kecil mendengar tawarannya. Bukan karena setuju, tapi karena tahu betul Bara bukan sosok yang sebaik itu kalau sedang menghadapi orang lain. Sikap hangat dan lembut itu hanya dia tunjukkan pada orang-orang tertentu.Sebagai satu-satunya pewaris Askara Corp, Bara tidak mungkin berhasil mempertahankan kekuasaannya hingga saat ini jika dia tidak berhati sedingin es.Jika semua rencana balas dendam ini ku serahkan padanya, akan jadi seberingas apa dia nanti? Membayangkannya saja aku tidak mau.Ini bukan waktunya mengambil risiko dan memanfaatkan orang yang memang tidak seharusnya ku manfaatkan seperti objek. Bara terlalu berharga untuk itu.Aku menggeleng, berkata dengan nada lembut agar tidak terkesan meremehkan. “Kalau aku kabur sekarang, itu artinya aku adalah orang pengecut yang mengaku kalah dan bersembunyi di balik punggung orang yang lebih berkuasa. Aku nggak mau dianggap begitu, mau ditaruh di mana harga diriku?”Mataku beralih menuju pintu kaca balk

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   98. Pagi Bersamanya

    Sinar matahari yang mulai terik menyusup lewat celah tirai kamar, menyapa kelopak mataku sampai terbangun. Aku menggeliat, meregangkan tubuh sejenak dengan mata mengerjap malas lalu duduk perlahan.Sisi ranjang di sebelahku sudah kosong, hanya tersisa selimut dan sprei yang acak-acakan sisa kegiatan tadi malam. Aku menunduk, menekan-nekan bahu yang pegal, lalu menoleh pada sesuatu yang terletak rapi di sudut ranjang.Di sana ada kantong belanja yang struknya masih terselip di dalam. Aku mengambil dan mengecek isinya, ada blus krem lengkap dengan celana kain hitam, beberapa dalaman dan bra baru ikut terselip di sana.“Wah! Serius deh, dia beli ini kapan?” gumamku, berdecak kagum.Aku mengangkat pakaian itu sambil memeriksa ukurannya, membayangkan Bara yang belanja pakaian wanita di pagi buta membuatku cekikikan.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, aku berhenti sebentar di depan cermin dinding kamar, memutar tubuh memeriksa hasil belanjaan pria itu. Blus elegan dengan poto

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   97. Sentuhan Panas

    Aku mengalihkan pandangan sambil melonggarkan tanganku, malu-malu memperlihatkan tubuh bagian atasku padanya.Bara terpaku beberapa detik, terlihat menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya kembali mendekat padaku bersamaan dengan napasnya yang hangat menyapu permukaan kulitku yang terekspos bebas, membuatku memejamkan mata sejenak karena sensasi itu.Bara menopang tubuhnya sendiri agar lebih tinggi dariku menggunakan sikunya.Aku menatap matanya yang sayu itu dengan jantung yang berdegup kencang. Tidak ada keraguan yang seharusnya ku rasakan di saat-saat seperti ini, semuanya tergantikan dengan kepercayaan seutuhnya karena perlakuan Bara yang begitu lembut.Di luar hujan masih setia mengetuk jendela kamar yang tertutup gorden transparan berwarna putih. Dan di dalam remangnya cahaya lampu, Bara mulai bergerak.Dia langsung menuju buah kembar milikku, mengecup lalu menghisap salah satu puncaknya dengan gerakan yang lihai. Lidahnya bermain di sana membuat tubuhku mengencang.Tangannya

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   96. Aku Pilih Kamu

    Tanpa sadar aku mengerutkan alis, tawaku berhenti seketika. “Oh, ya? Kenapa tiba-tiba banget?”“Karena aku udah nggak punya alasan lagi untuk ngelakuin itu,” jawabnya, menatap mataku lekat di tengah temaram lampu kamar. “Selama ini, aku cuma ingin lari dari rasa sakit dan kehilangan. Mencari kehangatan dari setiap orang yang aku kira bisa memberikan kehangatan yang sama dengan yang pernah kamu kasih.”Mulutku sedikit terbuka, cukup terkejut dengan pernyataan itu. Apa sekarang Bara sedang mengungkapkan isi hatinya?“Tapi nggak ada yang bisa memberikan itu walau aku sudah mencarinya hingga ke seberang samudera, Mia. Dan sekarang kamu udah kembali ke hidup aku. Aku nggak perlu siapa pun lagi,” tutur Bara, tidak ada keraguan dalam suaranya sama sekali.“Tapi kenapa?” tanyaku lirih. “Aku udah ninggalin kamu, nyakitin kamu. Kenapa kamu masih bersikap begini? Ada jeda tiga tahun buat kamu move on sama orang lain.”Suaraku bergetar menahan sesak, membayangkan bagaimana tersiksanya Bara selama

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   95. Bara yang Mempesona

    Kondisi Bara tidak lebih baik dariku.Dia menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya terlihat naik turun, sementara matanya tertuju padaku dengan intensitas yang berbeda. Saking panasnya pandangan itu, suhu tubuhku rasanya ikut naik.“Iya, nggak masalah.” Suara Bara terdengar serak. “Aku jago menahan diri, kok.”Aku menghela napas kecewa, bukan karena jawaban Bara tidak seperti yang ku harapkan, melainkan kesal pada diri sendiri yang terus berpikir yang tidak-tidak.Namun sedetik kemudian Bara tiba-tiba bergerak, menyelipkan satu tangannya ke bawah lututku, sedangkan satu lagi menopang punggung. Dia mengangkatku dengan posisi bridal style tanpa peringatan sama sekali.Refleks aku memekik, melingkarkan tanganku lebih ke lehernya karena takut jatuh.“B-bara? Kenapa tiba-tiba…”“Kamu kelihatannya kecewa banget pas aku bilang jago nahan diri, Mia. Diam-diam kamu ngarepin sesuatu ya?” potong Bara dengan ekspresi nakal.“Ih! Nggak!” Aku mengelak, memukul pelan dadanya.“Oh, gitu. Yah… padah

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   94. Deep Talk

    Tapi mau dipikirkan sekeras apa pun, aku tidak menemukan jawabannya. Kalimat itu terlalu ambigu.Kenapa Bara harus terus belajar menembak? Rasa sakit apa yang dia maksud? Apa dia sedang berencana jadi mafia kayak di novel-novel?Aku menepuk pipiku pelan, merutuki pikiran absurd yang terlintas.“Harusnya aku lebih banyak baca novel genre misteri atau detektif, bukannya kecanduan novel erotis. Lihat, sekarang otakku jadi tumpul, kan?” Aku mendumel sendiri, tidak terima dengan kemampuan analisaku yang payah.Di tengah rasa penasaran yang tidak terjawab itu, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar kamar.“Mia? Kamu masih mandi?” Suara Bara terdengar khawatir. “Kamu nggak pingsan di dalam sana, kan?”Aku melirik jam digital di meja kerja Bara, sontak menepuk dahi. Empat puluh lima menit sudah ku habiskan di dalam kamarnya, pantas saja Bara mengira aku kenapa-kenapa.Tanpa sempat memikirkan apa pun aku langsung menutup buku catatan itu, bergegas menuju pintu dan membukanya. Bara sudah berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status