Yono terkekeh rendah mendengar celotehan berani dari agen properti di depannya.Tangan besarnya terangkat, bukan untuk melucuti pakaian Sinta, melainkan mengusap lembut pipi mulus wanita itu sebelum memiringkan kepalanya."Nanti dulu, Sin," ujar Yono santai sembari melangkah mundur satu tapak."Kasihan badan sebagus dan semulus kamu ini kalau nanti harus kedinginan atau malah kebentur lantai keramik keras begini cuma gara-gara kita nekat main di rumah kosong."Sinta seketika memanyunkan bibirnya, memasang raut wajah kecewa yang dibuat-buat. "Yah, Pak Yono mah penakut. Padahal Sinta sudah siap banget lho.""Bukan takut, tapi biar lebih nikmat," potong Yono cepat, lalu memajukan kembali tubuh tinggi besarnya, mengikis jarak hingga napas hangatnya menyapu kening Sinta.Dengan suara baritonnya yang berat, dalam, dan mengintimidasi, Yono berbisik tepat di depan wajah Sinta."Beli isi rumah ini gak bakal lama. Kamu tunggu saja. Begitu kasur busa tebal sudah terpasang di kamar utama, aku sen
Dernière mise à jour : 2026-07-31 Read More