LOGINSudah jadi sopir truk bermuatan berat sejak sepuluh tahun di sebuah pabrik besar, pria bernama Yono seringkali jadi idaman para wanita centil dan kesepian di sana. Tak hanya satu dua wanita saja yang merayunya, namun Yono hanya memberikan senyum atau penolakan halus yang membuat para wanita itu semakin terus mengejarnya. Namun, siapa sangka, dari banyaknya wanita yang datang menggodanya, Yono berhasil terpikat pada satu wanita yang membuatnya tak tahan ingin mencobanya. Lantas, siapa wanita beruntung itu?
View More"Masih buka, May? Atau aku kelebihan jam?"
Suara berat dan serak itu memecah keheningan ruang administrasi yang sepi. Yono, pria gagah nan tampan berusia 32 tahun itu kini berdiri di ambang pintu, sedang bersandar pada kusen kayu dengan satu tangan tenggelam di saku celana jinsnya yang memudar.
Kaus abu-abu yang membungkus tubuh tegapnya tampak sedikit basah oleh keringat di bagian dada dan punggung, mempertegas siluet bahunya yang lebar setelah belasan jam mengendalikan setir truk kontainer lintas provinsi. Aroma maskulin yang bercampur samar dengan bau jalanan dan sisa parfum maskulinnya langsung menguasai ruangan ber-AC dingin itu.
Maya lantas mendongak dari balik layar komputer. Jantungnya melewatkan satu ketukan, tetapi ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak santai. Ia lalu melirik jam dinding—pukul lima lewat lima belas sore. Semua staf lain sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu.
"Khusus buat kamu, selalu buka, Mas. Sini masuk, mana surat jalannya?" ucap Maya dengan serak, lalu buru-buru berdeham untuk menyembunyikannya.
Yono kemudian melangkah masuk. Pria itu memang terkenal irit bicara di kalangan para sopir dan staf kantor, namun auranya yang tenang dan dingin justru selalu berhasil menyita perhatian.
Terutama bagi Maya. Belakangan ini, di tengah kesepian hubungan jarak jauh dengan tunangannya yang makin terasa hambar, bayangan Yono sering kali mampir tanpa permisi di kepalanya.
Yono kemudian mengeluarkan sebundel dokumen dari map plastik kusam dan mengulurkannya di atas meja kerja Maya. "Tolong dicek dulu. Biar aku bisa langsung bongkar muatan besok pagi."
Maya kemudian menerima berkas itu. Namun, alih-alih hanya mengambil kertasnya, jemari lentik Maya sengaja bergerak lambat, menggeser ujung jarinya dengan tekanan halus di sepanjang punggung tangan Yono yang urat-uratnya menonjol tegas. Kulit Yono terasa hangat, kontras dengan hawa dingin AC yang menusuk kulit.
Namun, Yono tidak menarik tangannya. Ia tetap bergeming sambil berdiri kokoh seperti batu karang. Pria itu hanya menurunkan pandangannya dan menatap tepat ke manik mata Maya dengan tatapan yang begitu dalam dan intens. Tatapan yang seolah bisa membaca setiap niat tersembunyi di balik senyum manis wanita di hadapannya.
Ditatap seperti itu, Maya mendadak salah tingkah. Pipinya terasa panas. Untuk mengalihkan kegugupannya, ia pun berpura-pura sibuk dengan membolak-balik lembaran surat jalan dengan gerakan yang sengaja diperlambat.
Ia lalu memeriksa nomor manifes satu per satu, mencocokkannya dengan komputer seolah-olah ada data yang sangat rumit.
"Agak lama ya, Mas. Sistemnya agak lambat sore ini," bohong Maya sambil melirik ke arah Yono yang kini menyilangkan dadanya sambil bersandar pada tepi meja kerjanya.
Jarak mereka kini terkikis, menyisakan aroma tubuh Yono yang makin pekat membakar indra penciuman Maya.
"Nggak apa-apa. Aku nggak buru-buru," sahut Yono pendek dengan suara rendahnya yang semakin membuat Maya salah tingkah.
Wanita centil itu hanya bisa menelan ludah. Ketegangan di antara mereka berdua terasa begitu tebal, seolah bisa dipotong dengan pisau. Bertekad tidak ingin kehilangan momen, Maya kemudian mengambil sebuah pulpen di dekat papan klipnya.
Dengan gerakan yang tampak ceroboh namun penuh perhitungan, ia lalu menyenggol pulpen itu hingga menggelinding melewati tepi meja dan jatuh tepat di dekat ujung sepatu bot kulit milik Yono.
"Eh, jatuh," gumam Maya pelan.
Sebelum Yono bergerak, Maya sudah lebih dulu beranjak dari kursinya dan membungkuk di bawah meja untuk mengambil pulpen tersebut. Yono, dengan refleks seorang pria yang sopan, ikut membungkuk di saat yang bersamaan untuk membantu.
Di bawah kolong meja yang remang-remang dan sempit, gerakan mereka terhenti. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Maya bisa merasakan hembusan napas hangat Yono yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Detak jantung Maya berdentum kencang, bertalu-talu di dalam dadanya hingga ia yakin Yono bisa mendengarnya.
Mata Yono yang gelap mengunci tatapan Maya, tidak ada keraguan di sana, hanya ada ketenangan yang mematikan sekaligus memikat. Di ruang sempit itu, keheningan terasa begitu intim. Jari Maya menyentuh pulpen, namun matanya tidak lepas dari bibir pria di hadapannya.
Maya memajukan wajahnya sedikit lagi, menantang jarak, lalu berbisik dengan nada suara yang sengaja ditahan, sarat akan provokasi.
"Ada kesalahan fatal di sistem administrasi, Mas... KTP kamu terpaksa harus aku tahan di sini sampai besok pagi."
Sudah terbiasa dengan modus wanita itu, Yono tampak tidak terkejut. Alih-alih panik atau marah, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti, seolah ia tahu persis permainan apa yang sedang dimainkan oleh wanita di depannya ini.
Ia pun mengambil pulpen dari tangan Maya, lalu perlahan kembali berdiri tegak, dan diikuti oleh Maya yang buru-buru merapikan roknya dengan napas yang agak memburu.
Yono mengantongi kembali sisa berkasnya, berbalik memunggungi meja, lalu melangkah mantap menuju pintu keluar. Tepat di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
Aroma tubuh dan ketegangan yang ditinggalkannya masih tertinggal jelas, yang membuat ruangan yang dingin itu mendadak terasa begitu panas bagi Maya.
"Tahan aja sepuasmu, May. Emang itu yang kamu mau biar bisa ketemu sama aku lagi, kan?”
Yono melingkarkan kedua lengan kekarnya di bawah lipatan lutut Sarah, lalu melipat kedua kaki tegap sekuriti wanita itu hingga terangkat tinggi ke arah dadanya.Posisi ini membuat liang keintiman Sarah yang sudah basah kuyup terkuak sangat lebar tanpa ada celah tersisa.Yono memegang pangkal keperkasaannya yang tegang, mengarahkan ujungnya yang hangat tepat di mulut kewanitaan Sarah.Pria itu menatap lurus sepasang mata Sarah dengan pandangan mata dominan yang teramat mengintimidasi."Tahan napasmu, Rah. Ini barangku mau masuk utuh," peringatkan Yono dengan suara baritonnya yang berat dan serak."Tancap aja langsung, Mas Yono! Aku sudah gak tahan!" desak Sarah dengan wajah memerah dan mata yang sayu oleh gairah.SLOSH!Dalam satu dorongan pinggul yang tajam dan bertenaga, Yono menancapkan batang keperkasaannya secara penuh.Kejantanannya yang keras berurat melesak masuk, mengoyak lorong ketat Sarah hingga bagian puncaknya menumbuk pas di dasar rahim sang sekuriti."AAAHHH! MAS YONOOO!
Yono membimbing tubuh polos Sarah menyusuri koridor belakang yang remang-remang.Tangan besarnya menggenggam erat jemari tegap sang sekuriti wanita.Yono membuka pintu kayu kamar tidur kosong yang terletak tepat di samping dapur, lalu menarik Sarah masuk ke dalamnya. Pintu kamar diputar kuncinya dari dalam sampai terdengar bunyi klik yang mantap.Di dalam kamar yang beralaskan karpet tebal warna cokelat tua itu, suasana terasa sangat sepi dan aman.Suara tawa Heri dan alunan musik barbeku dari lahan kosong samping rumah hanya terdengar samar-samar seperti bisikan."Di sini aman, Rah," panggil Yono rendah sembari menyandarkan punggung lebarnya ke dinding kamar. "Gak bakal ada yang tahu kita di dalam."Sarah menatap Yono dari bawah ke atas.Tanpa diminta dua kali, sekuriti wanita bertubuh tegap dan padat itu merosot berlutut di atas karpet tebal, tepat di hadapan selangkangan Yono.Pandangan mata Sarah mengunci lurus pada keperkasaan Yono yang sudah berdiri tegang sempurna, keras, panja
Yono sedang berdiri di samping bak cuci piring area dapur saat terdengar langkah kaki sigap mendekat dari arah koridor tengah.Belum sempat Yono memutar badannya secara utuh, pintu dapur kayu di belakangnya langsung ditutup rapat dan dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang tegas.Sarah berdiri membelakangi pintu. Sepasang mata tajam sekuriti wanita itu membara oleh gairah yang sudah ditahannya sejak pagi hari.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sarah melangkah lebar menghampiri Yono.Dengan gerakan cepat dan bertenaga khas seorang petugas keamanan, Sarah melompat tipis dan merangkulkan kedua lengan tegapnya ke leher tebal Yono.Wajah ayunya mendekat, lalu bibirnya langsung menyambar dan melahap bibir Yono secara brutal.Adu ciuman panas dan liar seketika pecah di samping meja dapur yang remang-remang tersebut.Lidah Sarah menyusup masuk, beradu kelahi dengan lidah Yono yang hangat. Suara kecupan pekat bersahutan di antara deru napas mereka yang memburu.Yono yang terkejut hanya sep
Pukul delapan malam, lahan kosong seluas lima puluh meter persegi di samping rumah baru Yono tampak ramai disorot lampu sorot gantung.Asap tipis beraroma daging panggang gurih membumbung ke udara.Di atas meja lipat panjang, berderet potongan daging sapi, sosis, saus barbeku, serta beberapa kaleng bir dan botol minuman beralkohol yang dibawa oleh Citra.Tiga pria berkumpul di dekat pemanggangan: Yono yang tampil tegap hanya mengenakan kaus kutang hitam ketat memperlihatkan otot lengannya yang kekar, Heri yang berbadan tegap gempal, serta Budi dan Anton, dua rekan sopir armada pabrik yang sibuk membalik daging.Tiga wanita juga berada di sana. Citra tampil seksi dengan atasan crop top yang memamerkan perut mulusnya.Ratih mengenakan gaun santai rumahan yang membungkus ketat bagian dadanya.Sementara Sarah, sekuriti wanita perumahan yang baru saja menyelesaikan sif tugas malamnya, hadir masih mengenakan celana PDL hitam dan kaus ketat warna senada yang membungkus ketat lekuk tubuh tega
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews