Mag-log inYono menghentikan truk kontainer besarnya tepat di area parkir tunggu gudang logistik luar kota.
Pria tegap itu turun sejenak dari pintu kabin, melangkah menuju pos penjaga gudang untuk menyerahkan berkas surat jalan kepada petugas.
"Pak, ini surat jalannya. Muatannya sudah siap di belakang," ujar Yono dengan suara baritonnya yang mantap.
"Saya mau istirahat tidur sebentar di kabin ya, ngantuk banget habis jalan jauh."
Petugas pengangkut barang dan komandan penjaga
Yono menghentikan truk kontainer besarnya tepat di area parkir tunggu gudang logistik luar kota.Pria tegap itu turun sejenak dari pintu kabin, melangkah menuju pos penjaga gudang untuk menyerahkan berkas surat jalan kepada petugas."Pak, ini surat jalannya. Muatannya sudah siap di belakang," ujar Yono dengan suara baritonnya yang mantap."Saya mau istirahat tidur sebentar di kabin ya, ngantuk banget habis jalan jauh."Petugas pengangkut barang dan komandan penjaga gudang itu mengangguk paham."Oke, Mas Yono. Santai saja, tidur dulu di dalam. Nanti kalau giliran bongkar muatannya sudah mulai, baru saya ketuk pintu kabinnya.""Sip, terima kasih Pak," jawab Yono singkat.Yono kembali memanjat tangga tinggi truknya, masuk ke dalam kabin, lalu menutup pintu besi itu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.Ia sengaja membiarkan mesin diesel tetap menyala agar AC kabin tetap terasa dingin dan menyejukkan.Begitu berbalik mengh
Yono mengarahkan truk kontainer besarnya memasuki pelataran SPBU di pinggir jalan lintas provinsi.Usai mengantre sebentar, Yono mengisi penuh tangki solar armada besarnya.Di sudut pelataran SPBU, matanya menangkap sosok Sinta yang berdiri menunggunya dengan mengenakan jaket kain longgar.Selesai melakukan pembayaran solar, Yono memajukan truknya sedikit ke area parkir yang agak lengang.Ia membukakan pintu kabin sebelah kiri dari dalam. Sinta dengan sigap memanjat tangga tinggi truk lalu masuk ke dalam kabin dan menutup pintunya rapat-rapat.Suara gemuruh mesin diesel dan deru AC dingin memenuhi kabin tinggi yang luas itu.Baru saja duduk di kursi penumpang, Sinta langsung melepas jaket yang membungkus tubuhnya.Di balik jaket itu, Sinta mengenakan mini dress ketat tanpa lengan dan tanpa tali berwarna merah menyala terang.Pakaian tipis itu membungkus amat ketat gundukan dadanya yang sangat besar, melukis jelas lekuk
Di pelataran parkir logistik pabrik yang ramai oleh deru mesin diesel, Yono sedang berdiri di samping truk kontainer besar yang akan dibawanya.Pria tegap itu sibuk memeriksa kondisi ban dan memeriksa beberapa pengikat muatan. Pagi ini aura maskulinnya terpancar kuat di tengah udara pabrik yang berdebu.Saat Yono sedang sibuk, langkah kaki Ratih terdengar mendekat. Janda montok itu berjalan dengan gaya anggun sembari membawa papan jalan berisi lembaran kertas dokumen pengiriman.Ratih berpura-pura menyerahkan surat jalan tersebut secara formal kepada Yono, padahal matanya menatap Yono dengan pandangan penuh gairah yang berusaha ia tutupi."Ini surat jalan buat pengiriman luar kota hari ini, Mas Yono," ujar Ratih dengan nada suara pelan yang dibuat-buat di depan para buruh lain.Begitu berdiri cukup dekat, Ratih berbisik lirih saat menyerahkan berkas itu. "Mas, rumahku sepi lho nanti malam. Kamu gak mau mampir?"Yono menoleh, menyunggingkan s
Rabu pagi yang cerah. Sinar matahari pagi mulai menyiram pelataran kompleks perumahan cluster.Sinta melangkah menyusuri jalanan paving block menuju unit paling pojok dengan gaya pakaian santai namun tetap menunjukkan lekuk tubuhnya yang padat.Agen properti muda itu mengintip melalui celah jendela depan yang gordennya belum terpasang sempurna.Mata Sinta seketika membola. Ia terkejut melihat interior ruang tamu Yono yang tak lagi melompong.Di dalam sana sudah berdiri lemari pakaian, kasur lipat tebal, serta beberapa kardus barang yang tertata di sudut ruangan.Pintu depan mendadak terbuka dari dalam.Yono berdiri di ambang pintu, tampil gagah mengenakan seragam kerja pabrik berwarna biru tua yang lengannya digulung hingga memperlihatkan otot tangannya yang berurat tebal.Pria itu tengah memegang kunci motor, siap meluncur untuk sif paginya.Yono mengangkat sebelah alisnya, agak heran melihat kedatangan Sinta yang teramat pagi di depan rumah barunya."Pagi-pagi banget kamu sudah di s
Mata Citra seketika membola mendengar bisikan bernada candaan dari Yono. Rasa kesal yang sejak tadi tertahan di dadanya langsung memuncak.Wanita itu lantas menepuk dada bidang Yono dengan telapak tangannya cukup keras, lalu melangkah mundur satu tapak dengan raut wajah gusar."Mas Yono! Kamu ini kalau bicara ngawur banget ya!" pekik Citra dengan nada tinggi, matanya menatap tajam pada pria tegap di depannya."Bisa-bisanya kamu nawarin aku ke Mas Heri?! Lagian Mas Heri itu sudah punya pacar, Mas! Mana mungkin dia mau main serong sama cewek lain!"Yono hanya menyandarkan punggung lebarnya di daun pintu yang terkunci, menatap Citra dengan ekspresi tenang tanpa beban sedikit pun.Citra mengusap dadanya yang naik-turun menahan emosi. Ia lalu memajukan langkahnya kembali, menatap lurus sepasang mata gelap Yono dengan pandangan yang berubah menuntut dan sarat godaan."Harusnya kamu sadar, Mas. Kita berdua ini sama-sama single. Hubungan kita yang sudah sejauh ini, harusnya kamu tahu kelanjut
Tak lama kemudian, suara deru motor matik Yono terdengar berhenti di pelataran carport.Yono melangkah masuk ke dalam rumah membawa dua kantong plastik berisi bungkus nasi padang dan beberapa kantong es teh manis jumbo."Nasi padangnya sudah siap nih," seru Yono santai sembari meletakkan kantong plastik tersebut di atas lantai keramik ruang tamu yang bersih.Heri dan Citra keluar dari area kamar. Mereka bertiga lalu duduk melingkar secara lesehan di atas lantai keramik dingin tersebut.Yono membungkus bungkus nasi padang lauk rendang dan membagikannya satu per satu.Suasana makan malam sederhana itu berlangsung santai.Namun, di tengah-tengah makan, Heri yang memiliki postur tubuh tegap dan dada bidang itu mulai menunjukkan perhatian-perhatian kecil kepada Citra.Saat melihat Citra kesulitan membuka ikatan plastik es teh manisnya, dengan sigap Heri mengambil alih kantong plastik tersebut."Sini, Mbak Citra, biar aku bukakan. Tangannya nanti kena minyak," ujar Heri ramah sembari menari







